TVRINews, Jakarta
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Indonesia (UKI), Prof. Wilson Rajagukguk, mengapresiasi kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Menurutnya, penerapan lima pilar ekonomi menjadi langkah strategis untuk menjaga pertumbuhan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.
Prof. Wilson menilai lima pilar ekonomi yang dijalankan pemerintah mencakup berbagai aspek penting, mulai dari menjaga pertumbuhan ekonomi, memperkuat sektor eksternal, memastikan kecukupan likuiditas, mengendalikan inflasi, hingga memperdalam pasar keuangan.

(5 Pilar Ekonomi Indonesia. [Foto Ilustrasi: TVRINews.com])
“Pemerintah sudah melaksanakan lima pilar menjaga stabilitas ekonomi, yaitu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, memperkuat ketahanan sektor eksternal, mengelola kecukupan likuiditas, pengendalian inflasi, dan pendalaman pasar. Jadi, bagi saya sebagai ekonom, sangat baik,” ujar Prof. Wilson dalam keterangan yang diterima tvrinews, Jumat, 23 Oktober 2026.
Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, koordinasi kedua lembaga tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pelaksanaan kebijakan ekonomi pemerintah.
“Kerja sama yang baik dari Gubernur BI dan Menteri Keuangan saat ini sangat bagus. Dua-duanya sudah melaksanakan yang baik,”lanjutnya.
Selain itu, Prof. Wilson mengapresiasi peran belanja negara sebagai penyangga perekonomian atau shock absorber, terutama dalam menjaga daya beli masyarakat. Belanja negara melalui layanan publik, perlindungan sosial, dan bantuan pangan dinilai dapat menopang konsumsi domestik di tengah berbagai tekanan ekonomi.
“Belanja negara sebagai shock absorber yang dilakukan pemerintah sebesar Rp1.200 triliun untuk layanan publik, perlindungan sosial, bantuan pangan, agar konsumsi bagus,”jelasnya.
Menurut Prof. Wilson, besarnya jumlah penduduk Indonesia merupakan potensi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Konsumsi domestik dapat menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional karena didukung oleh pasar dalam negeri yang luas.
“Indonesia itu penduduk nomor empat terbesar di bumi ini. Salah satu alat ukur pertumbuhan ekonomi kan konsumsi. Konsumsi kita gede banget,”ucapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kebijakan stabilisasi ekonomi tidak cukup hanya berfokus pada pengendalian inflasi dan menjaga nilai tukar rupiah. Pemerintah juga perlu memastikan kebijakan tersebut berdampak langsung terhadap perkembangan sektor riil, penciptaan nilai tambah, dan perluasan kesempatan kerja.
“Lima pilar ini bukan untuk menjaga inflasi dan stabilitas rupiah saja, tetapi juga berharap menumbuhkan sektor riil dan menciptakan nilai tambah lapangan kerja,” tegas Prof. Wilson.
Lebih lanjut, ia menilai penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM), hilirisasi industri, dan penciptaan lapangan kerja perlu menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
“SDM dibangun, lapangan kerja kita buat. Ketika penduduk kita 280 juta mempunyai ekspektasi penghasilan seumur hidup, guncangan apa pun di planet ini tidak berpengaruh ke Indonesia itu,” pungkasnya.
Ia berharap konsistensi pemerintah dalam menjalankan kebijakan ekonomi dapat menjaga ketahanan nasional di tengah dinamika global sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.










