TVRINews, Cimahi
Dampak musim kemarau panjang yang memicu minimnya pasokan membuat harga cabai merah di sejumlah pasar tradisional Kota Cimahi, Jawa Barat, melonjak tajam. Pada Senin, 14 September 2026, harga cabai merah tanjung bahkan menembus angka Rp100.000 per kilogram.
Musim kemarau yang telah melanda wilayah Jawa Barat dan sekitarnya selama lebih dari tiga bulan terakhir menjadi pemicu utama merosotnya pasokan dari tingkat petani. Kondisi ini secara langsung mendongkrak harga komoditas hortikultura di tingkat pedagang eceran.
Berdasarkan pantauan di Pasar Atas Kota Cimahi, kenaikan paling signifikan terjadi pada jenis cabai merah tanjung. Komoditas yang biasa digunakan sebagai bumbu utama masakan olahan tersebut naik hingga 66 persen dalam hitungan hari.
"Sebelumnya harga cabai merah tanjung masih berkisar di angka Rp60.000 per kilogram. Namun sejak awal pekan ini melonjak drastis hingga menembus Rp100.000 per kilogram," ujar Sri, salah satu pedagang sayur di Pasar Atas Baru Cimahi, Senin, 14 September 2026.
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada cabai merah tanjung. Jenis cabai lainnya serta sejumlah sayuran dapur ikut merangkak naik dalam sepekan terakhir.
Cabai merah keriting naik dari Rp40.000 menjadi Rp60.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit merah melonjak hingga mencapai Rp70.000 per kilogram. Sejumlah komoditas sayuran seperti bawang merah, kentang, dan sayuran hijau rata-rata mengalami kenaikan Rp2.000 hingga Rp5.000 per kilogram.
Sri menjelaskan, penipisan pasokan terjadi akibat fenomena gagal panen (puso) yang dialami para petani di wilayah sentra produksi, seperti Garut, Tasikmalaya, dan Pasirjambatan, akibat kekeringan dan keterbatasan sumber air irigasi.
"Pasokan dari petani berkurang jauh karena kemarau. Banyak area pertanian yang kekeringan sehingga panennya tidak maksimal. Barang yang masuk ke pasar otomatis sangat terbatas, sementara permintaan konsumen tetap," kata Sri.
Lonjakan harga yang sangat tinggi ini memaksa masyarakat, khususnya ibu rumah tangga dan pemilik usaha kuliner, memutar otak. Banyak dari mereka yang terpaksa mengurangi volume pembelian demi menjaga kestabilan pengeluaran harian.
Rina (42), seorang pemilik warung makan di kawasan Cimahi Tengah, mengaku sangat terdampak oleh situasi ini. Ia tak bisa menaikkan harga porsi makanan di warungnya karena khawatir ditinggal pelanggan.
"Cabai itu bahan pokok buat sambal dan bumbu masakan. Kalau harganya Rp100.000 per kilogram, modal jualan benar-benar tergerus. Siasatnya ya paling mengurangi porsi penggunaan cabai atau mencampurnya dengan cabai jenis lain, tapi rasanya tentu beda," ungkap Rina.
Baik pedagang maupun konsumen berharap adanya langkah nyata dari Pemerintah Kota Cimahi, seperti operasi pasar murah atau koordinasi antardaerah (KAD) untuk mendatangkan pasokan cabai dari wilayah yang masih surplus.
Para pedagang berharap rantai pasokan cabai dan sayuran dapat segera pulih agar harga di pasaran kembali stabil. Mereka juga berharap tren kenaikan ini tidak berlarut-larut seiring masuknya masa transisi musim dan pulihnya kapasitas produksi petani.










