TVRINews, Jakarta
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendorong perusahaan teknologi Indonesia tidak berhenti pada tahap pengembangan inovasi, tetapi mampu mengubahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan dapat dikomersialisasikan hingga menembus pasar global.
Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya mengatakan Indonesia memiliki talenta, pasar, serta kebutuhan industri yang dapat menjadi ruang tumbuh bagi inovasi teknologi. Namun, inovasi tersebut perlu terus dikembangkan agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
"Indonesia memiliki talenta, pasar, dan kebutuhan industri yang dapat menjadi ruang tumbuh bagi inovasi teknologi. Tantangannya adalah memastikan inovasi tersebut terus dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah, mampu dikomersialisasikan, dan pada akhirnya dapat bersaing di pasar global," ujar Riefky dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip Minggu, 13 September 2026.
Riefky menilai perkembangan perusahaan teknologi asal Indonesia, McEasy, menjadi salah satu contoh positif. Perusahaan yang bergerak di bidang solusi digital untuk ekosistem mobilitas, transportasi, dan logistik tersebut telah digunakan sekitar 2.000 perusahaan.
Sistem McEasy juga mencatat sekitar 350 juta kilometer perjalanan kendaraan setiap bulan. Perusahaan tersebut turut memperoleh pendanaan Seri B senilai 9 juta dolar AS dari Integra Partners, serta fasilitas growth debt dari InnoVen Capital.
Menurut Riefky, capaian tersebut menunjukkan perusahaan teknologi Indonesia memiliki kapasitas untuk menghasilkan produk yang menjawab kebutuhan industri sekaligus mendapatkan kepercayaan pasar dan investor.
"Capaian ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi Indonesia memiliki kapasitas untuk membangun produk yang menjawab kebutuhan industri sekaligus memperoleh kepercayaan pasar dan investor. Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk membawa inovasi yang lahir di Indonesia ke tingkat regional," katanya.
Untuk mendukung proses tersebut, Kementerian Ekraf berkomitmen menjalankan peran sebagai fasilitator dan pendamping bagi startup teknologi, terutama dalam mendorong inovasi menuju tahap komersialisasi.
Riefky menegaskan pemerintah ingin memastikan inovasi yang lahir di Indonesia tidak berhenti pada tahap prototype. Inovasi harus memiliki jalur untuk dikembangkan, dilindungi, dikomersialisasikan, dan diperluas ke pasar yang lebih besar.
"Kami ingin memastikan inovasi yang lahir dari Indonesia tidak berhenti pada tahap prototype. Inovasi harus memiliki jalur untuk dikembangkan, dilindungi, dikomersialisasikan, dan diperluas ke pasar yang lebih besar," ucapnya.
Ia menambahkan, kehadiran pemerintah diarahkan untuk memfasilitasi kebutuhan startup agar inovasi teknologi dapat berkembang menjadi produk dan bisnis yang berkelanjutan.










