TVRINews, Aceh Tamiang
Menteri Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya mendorong pelaku usaha kuliner di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, untuk kembali menggerakkan roda perekonomian pascabencana. Upaya tersebut dilakukan melalui program Masak Bersama Master (MASAMO).
Sebanyak 100 pelaku usaha kuliner terdampak bencana mengikuti pelatihan MASAMO yang digelar pada 10–12 September 2026. Program ini menjadi bagian dari gerakan Ekraf Peduli "Pulih Bersama, Bangkit Berdaya".
Riefky mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat Aceh Tamiang. Kehadiran Kementerian Ekraf juga merupakan tindak lanjut arahan Presiden untuk mendukung pemerintah daerah dalam membangkitkan ekonomi kawasan.
"Kehadiran kami ini atas arahan Presiden dalam mendukung program Bupati untuk membangkitkan ekonomi daerah. Ini adalah peluang yang sangat baik ke depan," ujar Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 12 September 2026.
Menurut Riefky, pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur. Pengembangan ekonomi masyarakat melalui sektor ekonomi kreatif juga menjadi bagian penting agar aktivitas ekonomi kembali berjalan.
"Program ini berjalan secara berkelanjutan, saat ini terdapat 103 program beragam yang dibagikan untuk kabupaten/kota terdampak, baik di dalam maupun di luar Aceh, dan bahkan sedang disiapkan untuk wilayah NTT," terangnya.
Dalam program MASAMO, para pelaku usaha tidak hanya mendapatkan pelatihan mengolah bahan pangan lokal. Mereka juga dibekali pengetahuan mengenai pengelolaan usaha, perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), pengembangan produk, strategi pemasaran digital, bundling produk, hingga perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (KI).
Peserta juga dilatih membuat produk siap saji atau Ready-To-Eat (RTE) berbahan lokal dengan masa simpan lebih panjang tanpa pendingin. Pelatihan tersebut diharapkan dapat membuka peluang pengembangan produk kuliner sekaligus memperluas pasar bagi pelaku usaha.
Selain pembekalan keterampilan, peralatan memasak yang digunakan selama pelatihan juga diberikan kepada peserta untuk mendukung keberlanjutan usaha mereka setelah program berakhir.
Riefky berharap pelatihan tersebut dapat melahirkan berbagai inovasi produk kuliner yang mampu meningkatkan usaha sekaligus membuka lapangan kerja di Aceh Tamiang.
"Terima kasih atas keseriusannya, mari kita doakan agar Aceh Tamiang semakin sukses, perekonomiannya bangkit, dan peluang ekonomi kian terbuka lebar. Terima kasih juga kepada Chef, semoga lahir ide-ide yang semakin menarik serta mampu membuka lapangan kerja yang luas," ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi mengatakan pemulihan pascabencana di wilayahnya telah mencapai sekitar 80 persen. Ia mengapresiasi dukungan Kementerian Ekraf yang dinilai memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
"Alhamdulillah, sekitar 10 bulan pascabencana, pemulihan sudah mencapai 80%. Kami sangat berterima kasih atas inisiatif Pak Menteri yang luar biasa ini," ucap Armia.
Ia berharap program penguatan ekonomi kreatif seperti MASAMO dapat terus dilanjutkan untuk membantu masyarakat Aceh Tamiang bangkit dan mengembangkan usaha mereka.
Program MASAMO turut menghadirkan Chef Hasan Basri, Ketua Indonesia Chef Association Badan Pengurus Daerah Sumatera Utara, untuk memberikan demo memasak. Sementara materi bisnis disampaikan Angga Nugraha, Business & Operation Growth Strategist sekaligus Chief Operations Officer King Fried Chicken.
Salah satu peserta, Nurwachna, mengaku mendapatkan pengetahuan baru untuk mengembangkan usaha katering miliknya. Ia menyebut sejumlah menu baru yang dipelajari, seperti sapi lada hitam, dapat menjadi variasi produk bagi pelanggan.
"Alhamdulillah, lewat kegiatan ekraf ini dan resep dari chef, saya dapat ilmu menu baru untuk bisnis saya Catering Bundawana, seperti Sapi Lada Hitam dan masih banyak lagi," kata Nurwachna.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor ekonomi kreatif menyumbang nilai tambah Rp1.611,2 triliun atau sekitar 7,28 persen terhadap PDB nasional pada 2024. Subsektor kuliner menjadi salah satu kekuatan utama karena berkaitan erat dengan potensi bahan baku lokal, budaya, UMKM, serta penciptaan lapangan kerja.










