TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar menyambut positif penyelenggaraan Tubaba Art Festival #10 yang akan digelar pada 7 November 2026 di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung. Festival ini dinilai menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Irene mengatakan, festival yang tumbuh dari inisiatif komunitas daerah memiliki peran penting dalam membuka ruang bagi talenta ekonomi kreatif untuk berinteraksi, berkolaborasi, dan memperkenalkan karya kepada masyarakat luas.
"Festival seperti ini penting karena tumbuh dari potensi dan kekuatan komunitas di daerah, sekaligus membuka ruang bagi talenta ekonomi kreatif untuk berinteraksi, berkolaborasi, dan memperkenalkan karya kepada masyarakat yang lebih luas. Tubaba Art Festival dapat menjadi bagian dari penguatan ekosistem ekonomi kreatif yang dimulai dari daerah," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Menurut Irene, Tubaba Art Festival menunjukkan bahwa seni dapat menjadi titik temu berbagai sektor, mulai dari pendidikan, pariwisata, arsitektur, hingga ekonomi kreatif. Keterlibatan masyarakat dalam proses penciptaan karya juga menjadi bagian penting dalam pengembangan potensi daerah.
Ia menilai, kolaborasi lintas sektor perlu terus dikembangkan agar potensi lokal tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga memberikan nilai tambah dan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Tubaba Art Festival #10 merupakan festival seni berbasis pendidikan emansipatif yang menghubungkan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Tahun ini, festival tersebut menghadirkan tiga program utama.
Program pertama, Perayaan Kesadaran, berupa pelatihan intensif dengan pendekatan pedagogi emansipatif bagi peserta didik berusia 7–18 tahun. Program ini menghasilkan karya berupa teater musikal, tari, musik, dan pameran seni rupa.
Kedua, Residensi Pulang ke Masa Depan, yakni program pengembangan karya yang melibatkan seniman dari berbagai daerah di Indonesia untuk melakukan riset, berkolaborasi dengan warga, dan menciptakan karya bersama.
Ketiga, Instalasi Ruang Publik, berupa pembuatan karya instalasi sebagai penanda utama festival yang diproduksi secara kolaboratif oleh para arsitek dari seluruh Indonesia.
Sementara itu, Direktur Sekolah Tubaba Art Festival, Semi Ikra Anggara, mengatakan festival ini bertujuan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebudayaan Indonesia, khususnya di wilayah Tulang Bawang Barat, melalui seni.
Festival ini juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem kebudayaan secara berkelanjutan, menyediakan ruang pendidikan karakter berbasis seni, serta mengembangkan pariwisata yang berlandaskan nilai-nilai budaya.
Selain itu, penyelenggara ingin menghubungkan pelaku ekonomi kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan pasar yang lebih luas. Salah satu pengisi acara yang akan dihadirkan tahun ini adalah grup musik Voice of Baceprot, yang karyanya telah dinikmati di berbagai negara.
Melalui penyelenggaraan Tubaba Art Festival #10, pengembangan seni dan budaya diharapkan dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi kreatif, pemberdayaan masyarakat, serta promosi potensi daerah.










