TVRINews, Jakarta
Perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipengaruhi dinamika geopolitik dan fluktuasi harga komoditas. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tercatat sebesar 5,45 persen, sementara aktivitas manufaktur nasional masih berada dalam fase ekspansi.
Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Suahasil Nazara mengatakan, meskipun perekonomian global menghadapi berbagai risiko, kondisi ekonomi Indonesia masih menunjukkan perkembangan yang positif.
"Namun kondisi ekonomi Indonesia solid, pertumbuhannya baik, semester 1 2026 kita tahu tumbuh di 5,45 persen," ujar Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Oktober 2026, dikutip dari YouTube Kemenkeu, Jumat, 9 Oktober 2026.
Lebih lanjut, Suahasil juga menyoroti perkembangan sektor manufaktur Indonesia yang menunjukkan ekspansi. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang meningkat menjadi 52,4 pada September 2026.
"Dan untuk itu saya bisa mengatakan kita akan berharap terus supaya manufaktur Indonesia, sektor industri manufaktur Indonesia akan terus sejalan, ekspansinya akan berlangsung dan sejalan dengan ekspansi di banyak ekspansi global di seluruh belahan dunia yang lain," katanya.
Ia menjelaskan, PMI manufaktur di atas 50 menunjukkan aktivitas sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi. Peningkatan indeks tersebut didukung oleh menguatnya permintaan domestik, bertambahnya tenaga kerja, meningkatnya pesanan, serta pembelian dan persediaan bahan baku.
"Permintaan dalam negeri menguat, artinya ini menjadi indikasi sektor produksi akan memproduksi barang dan jasa lebih banyak, makanya indeks PMI-nya naik. Tenaga kerja bertambah," jelasnya.
Menurut Suahasil, peningkatan pesanan dan persediaan bahan baku turut mencerminkan ekspektasi pelaku usaha terhadap kenaikan aktivitas produksi.
"Pengusaha itu kalau dia beli dan stok input, itu karena dia memikirkan bahwa produksi akan naik. Permintaan akan meningkat, saya akan harus produksi lebih banyak," tuturnya.
Di sisi perdagangan internasional, Indonesia juga mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar 7,3 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Nilai ekspor tercatat sebesar 193,6 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 186,4 miliar dolar AS.
Suahasil menilai komposisi impor yang didominasi bahan baku menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung kegiatan produksi di dalam negeri. Bahan baku yang diimpor dapat diolah lebih lanjut sehingga menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Di tengah perkembangan tersebut, pemerintah tetap mencermati berbagai risiko ekonomi global. Suahasil menyebut ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, potensi suku bunga global bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer, serta penguatan dolar Amerika Serikat menjadi sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi.
"Risiko-risiko ini harus kita kenali, kita identifikasi, kita rekognize, tapi kemudian kita mitigasi, kita respons," tegasnya.
Dari sisi stabilitas harga, inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen. Pemerintah tetap mewaspadai potensi kenaikan harga pangan menjelang El Nino yang dapat memengaruhi produksi dan pasokan sejumlah komoditas.
Suahasil menyebut cabai rawit, cabai merah, dan daging ayam sebagai komoditas yang perlu mendapat perhatian. Ia meminta institusi terkait memastikan ketersediaan produksi dan pasokan agar kenaikan harga dapat dikendalikan.
"Bagaimana produksi dalam negerinya, bagaimana permintaan dalam negerinya, kalau bisa jangan sampai ada kekurangan dan jangan sampai meningkatkan inflasi yang tidak perlu," terangnya.
Sementara itu, pemerintah masih menunggu pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026. Pemerintah juga terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga momentum pertumbuhan, stabilitas ekonomi, serta pengendalian inflasi di tengah dinamika global.










