TVRINews – Jakarta
Rupiah Bertahan di Zona Hijau, Ruang Penguatan Terbatas
Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini Jumat 9 Oktober 2026 berpotensi melanjutkan penguatan terbatas di tengah penurunan harga minyak dunia, meski bayang-bayang pelemahan keyakinan konsumen domestik dan kenaikan imbal hasil obligasi masih menahan laju ekspansi mata uang Garuda.
Pergerakan nilai tukar rupiah hingga akhir pekan ini masih menunjukkan daya tahan untuk berada di teritori positif. Kendati demikian, ruang apresiasi mata uang Garuda di pasar spot diperkirakan bergerak dalam koridor yang relatif terbatas akibat kombinasi sentimen eksternal dan tekanan domestik.
Stabilitas tipis ini salah satunya ditopang oleh penurunan harga minyak mentah global. Koreksi harga energi tersebut terjadi usai pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memastikan tidak akan mengambil tindakan militer terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu.
Berdasarkan data pasar, harga minyak Brent terpangkas sebesar 0,4% ke level US103,86perbarel.Sementaraitu,minyak West Texas Intermediate(WTI) melemah 0,1691 per barel. Penurunan harga komoditas energi ini turut diikuti oleh pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,02% ke level 102,12.
Meredanya tekanan di pasar energi membawa sebagian besar mata uang regional Asia melangkah ke zona hijau. Baht Thailand dan won Korea Selatan sama-sama menguat 0,08%, diikuti ringgit Malaysia sebesar 0,07%, serta dolar Singapura yang naik tipis 0,02%. Sebaliknya, yen Jepang pagi ini justru tergerus 0,13%.
Di pasar domestik, dinamika yang berbeda terlihat pada instrumen surat utang. Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS tercatat turun 3,6 basis poin menjadi 6,24%. Namun, tekanan masih mendera obligasi berdenominasi rupiah dengan kenaikan yield sebesar 2,5 basis poin ke level 7,2% untuk tenor 10 tahun.
Perbedaan arah pergerakan yield global dan Surat Berharga Negara (SBN) ini mencerminkan persepsi investor yang masih memperhitungkan risiko utang luar negeri serta premi risiko domestik. Kondisi tersebut mengisyaratkan bahwa para pelaku pasar masih menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk memegang aset berisiko dalam denominasi rupiah.
Dari sisi fundamental dalam negeri, tekanan tambahan datang dari data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September yang turun menjadi 118,1 dari posisi bulan sebelumnya di level 118,5. Penurunan ini terutama terlihat pada kelompok pengeluaran kelas menengah ke bawah, yang berisiko menahan laju konsumsi rumah tangga dalam jangka pendek.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, ruang bagi rupiah untuk mencatatkan penguatan lanjutan sejatinya masih terbuka, kendati pergerakannya mulai dibatasi oleh sikap wait and see investor terhadap sejumlah katalis pasar.
Pada kerangka waktu harian (daily), penguatan rupiah mengincar level resistance terdekat di posisi Rp17.850 per dolar AS. Apabila level tersebut terlampaui, ruang kenaikan berpotensi menuju resistance lanjutan di Rp17.800 per dolar AS sebelum menembus garis tren (trendline), dengan target paling optimistis di level Rp17.700 per dolar AS.
Di sisi lain, level support terdekat berada pada posisi Rp17.910 per dolar AS. Jika level ini berhasil ditembus oleh tekanan jual, konfirmasi support psikologis berikutnya akan menguji kisaran Rp17.950 hingga level kritis di Rp18.000 per dolar AS.










