TVRINews – Jakarta
Strategi Integrasi Hulu-Hilir Demi Menekan Beban Peternak Ayam Nasional
Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis guna melindungi keberlangsungan usaha peternak mandiri melalui penataan ulang tata niaga pakan ternak. Dalam kebijakan terbaru, seluruh kuota impor bungkil kedelai (soy bean meal atau SBM) direncanakan untuk dialihkan sepenuhnya kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Kebijakan ini dirancang sebagai instrumen intervensi untuk meredam volatilitas harga bahan baku yang selama ini menjadi komponen biaya produksi terbesar bagi peternak.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa pengalihan wewenang impor ini merupakan bagian integral dari upaya membangun ekosistem peternakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Melalui penugasan khusus kepada holding pangan BUMN, ID Food melalui PT Berdikari, pemerintah berupaya memastikan kepastian pasokan dengan struktur harga yang jauh lebih kompetitif dibandingkan mekanisme pasar bebas.
"Berkat penugasan ini, harga SBM dari ID Food Berdikari bisa di angka Rp8.630 per kg hari ini, sementara di swasta harganya masih di atas Rp10.000," ujar Amran di Jakarta Jumat 9 Oktober 2026.
Fluktuasi harga bungkil kedelai di pasar domestik selama ini kerap menjadi momok bagi peternak skala kecil, dengan rentang harga yang sering kali bergerak liar antara Rp10.000 hingga Rp12.000 per kilogram. Dengan intervensi langsung dari korporasi negara, stabilitas harga diharapkan dapat terjaga demi menjamin margin keuntungan yang wajar bagi para pelaku usaha di sektor perunggasan.
Lebih lanjut, Amran menekankan bahwa negara hadir untuk memastikan para peternak tidak terbebani oleh rantai pasok yang tidak efisien. Pemerintah berkomitmen mengawal kepastian sumber pakan sekaligus menggerakkan roda ekonomi kerakyatan secara berkelanjutan.
"Kita harus menolong peternak agar pakannya stabil, harganya menguntungkan, dan offtaker serta sumber pakannya jelas. Intinya, bagaimana ekonomi bergerak dan peternak ini jangan dipersulit," tambahnya.
Sebagai bagian dari pendekatan holistik tersebut, Kementerian Pertanian tidak hanya berfokus pada komoditas kedelai, tetapi juga memperkuat sektor hulu komoditas jagung yang menjadi komponen utama pakan ternak.
Pemerintah menyalurkan bantuan benih jagung untuk alokasi lahan seluas 20.000 hektare, lengkap dengan dukungan mekanisasi berupa traktor dan alat pemipil bagi petani binaan peternak.
Rangkaian kebijakan komprehensif ini turut mencakup skema penyerapan hasil panen jagung lokal. Apabila terjadi surplus produksi, Perum Bulog dipersiapkan untuk menyerap cadangan tersebut guna mengantisipasi potensi kekurangan pasokan pada periode paceklik antara September hingga Desember.
Ke depan, pemerintah juga memproyeksikan pembangunan fasilitas pabrik pakan serta day-old chick (DOC) mandiri melalui BUMN untuk menopang kebutuhan operasional peternak kecil secara berkesinambungan.










