TVRINews, Jakarta
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kondisi perekonomian global masih belum kunjung membaik dan dalam posisi stagnan lemah.
Kondisi itu merupakan pertumbuhan terlemah dalam 10 tahun terakhir, kecuali pada 2020 saat terjadinya pandemi COVID-19.
“Pertumbuhan ekonomi dunia masih stagnan rendah, ini juga merupakan pertumbuhan ekonomi terlemah dalam sedekade kecuali pada 2020 saat pandemi dan belum ada perubahan dari tahun lalu 3,2 persen,” kata Sri Mulyani saat rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Senin, 8 Juli 2024.
Sri Mulyani pun mengungkapkan penyebab ekonomi global stagnan, yakni permasalahan konflik geopolitik yang tidak kunjung selesai. Ditambah dengan gejolak Pemilu di berbagai negara maju.
"Kita masih mengikuti pemilu yang akan terjadi di Amerika, di Prancis sudah menghasilkan hasil yang sangat berbeda dan di Inggris telah terjadi perubahan dari pemerintahan," ucapnya.
Selain itu, masih stagnannya pertumbuhan ekonomi global juga dipicu oleh tren suku bunga kebijakan bank sentral negara maju yang masih sangat tinggi, khususnya Bank Sentral AS, yakni The Federal Reserve (The Fed) yang masih sulit menurunkan tingkat inflasinya.
Oleh karena itu, Sri Mulyani meminta pemerintah agar selalu waspada dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Oleh karena itu kita harus selalu waspada didalam mengelola APBN kita dan perekonomian kita karena dengan adanya hubungan antar negara dan sentimen yang muncul didalam pasar uang, pasar surat berharga dan juga pasar dari mata uang menimbulkan juga dampak kepada perekonomian kita,” ujarnya.










