TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya mendorong agar hasil riset dan inovasi yang lahir dari perguruan tinggi tidak berhenti sebagai karya ilmiah atau kekayaan intelektual. Riset kampus dinilai perlu didorong hingga tahap komersialisasi dan mampu menembus pasar global.
Riefky menilai perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional melalui riset, pendidikan, inovasi, dan pengembangan talenta.
Menurut Riefky, Konsorsium Perguruan Tinggi (KPT) Ekraf juga menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengimplementasikan Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026–2045. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi perlu diperkuat agar pengembangan ekonomi kreatif berjalan selaras dengan agenda inovasi nasional.
"Kementerian Ekraf akan mendorong elemen penting transformasi dari rantai nilai create, protect, and commercialize," ujar Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Minggu, 2 Agustus 2026.
Ia menekankan, inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi harus mampu berkembang menjadi produk atau karya unggulan yang memiliki nilai ekonomi. Tidak hanya itu, inovasi tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi brand nasional hingga melakukan ekspansi ke pasar global.
"Inovasi yang lahir dari KPT Ekraf jangan berhenti menjadi karya ilmiah atau kekayaan intelektual semata, tetapi harus mampu dikomersialisasikan menjadi produk atau karya unggulan, berkembang sebagai brand nasional hingga ekspansi global. Inilah ekonomi kreatif yang menghasilkan nilai tambah," jelasnya.
Kemudian Riefky mengatakan, penguatan kolaborasi tersebut salah satunya akan diwujudkan melalui rencana penyelenggaraan Creative Consortium Summit & Innovation Challenge (CCSIC) 2026 pada September mendatang di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
CCSIC 2026 mengusung tema Creative Industries: Local Heroes to National Champions, Go Global. Forum tersebut akan mempertemukan akademisi, mahasiswa, pelaku industri, komunitas kreatif, dan pemerintah untuk membahas arah pengembangan ekonomi kreatif berbasis perguruan tinggi.
Selain menjadi ruang kolaborasi, CCSIC 2026 akan diarahkan untuk mengkurasi berbagai inovasi kreatif yang memiliki potensi dikembangkan menuju tahap komersialisasi.
Lebih lanjut, Riefky juga menyebut KPT Ekraf telah digaungkan dalam pertemuan dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta BRIN sebagai bagian penting dalam implementasi Rindekraf. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat riset, pendidikan, inovasi, serta pengembangan talenta ekonomi kreatif di daerah.
KPT Ekraf sendiri merupakan perkumpulan perguruan tinggi yang berfokus pada pengembangan pendidikan, riset, talenta, dan inovasi di bidang ekonomi kreatif. Konsorsium ini beranggotakan 15 perguruan tinggi dan kini telah berbadan hukum.
Melalui kolaborasi tersebut, Kementerian Ekraf berharap potensi talenta dan inovasi dari perguruan tinggi dapat semakin terhubung dengan kebutuhan industri, sehingga menghasilkan produk kreatif bernilai tambah dan memiliki daya saing di tingkat global.









