TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, mendorong Desain Komunikasi Visual (DKV) menjadi salah satu penggerak nilai tambah dalam ekosistem ekonomi kreatif nasional.
Riefky menilai DKV memiliki peran strategis karena kontribusinya tidak hanya terbatas pada sektor desain, tetapi juga mendukung perkembangan berbagai subsektor ekonomi kreatif, mulai dari fesyen, film, musik, kuliner, kriya, hingga aplikasi dan gim. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri pembukaan Re:Rasa International Poster Biennale 2026 di Universitas Paramadina, Jakarta.
Menurut Riefky, perkembangan teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), membuat peran desain semakin penting. Desain tidak lagi sekadar dituntut menghasilkan karya yang menarik secara visual, tetapi juga mampu mengajak masyarakat berpikir, berdialog, dan melihat persoalan dari perspektif baru.
"Saya mengapresiasi Universitas Paramadina, panitia, kurator, serta mitra yang menghadirkan acara ini dengan tema 'Re:Think, Re:Make, Re:Act' yang sangat relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI)," ujar Riefky dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Lebih lanjut, ia menilai Re:Rasa International Poster Biennale 2026 dapat menjadi ruang bertemunya mahasiswa, desainer, ilustrator, akademisi, industri, dan komunitas kreatif lintas negara.

Ruang tersebut dinilai penting untuk mendorong kolaborasi, mengembangkan ide, sekaligus menciptakan peluang baru yang dapat memperkuat ekosistem desain nasional.
Kemudian Riefky mengatakan, sektor DKV dan desain secara umum telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Kemampuan talenta desain Indonesia juga telah terbukti mampu menembus industri global, termasuk menghasilkan karya untuk Intellectual Property (IP) kelas dunia seperti Disney, Pokémon, dan Marvel.
Karena itu, pemerintah mendorong penguatan ekosistem desain berbasis Kekayaan Intelektual (KI). Langkah tersebut sejalan dengan posisi Kementerian Ekraf dalam menjadikan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional.
Penguatan tersebut juga selaras dengan Peraturan Presiden Nomor 37 Tahun 2026 tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026–2045, yang salah satunya diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produk kreatif nasional di panggung internasional.
"Atas dasar tersebut, sektor desain bukan sekadar urusan estetika, melainkan wadah untuk menciptakan nilai tambah, membangun identitas, melahirkan kekayaan intelektual, hingga membuka peluang ekonomi baru," ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Riefky mengapresiasi penyelenggaraan Re:Rasa International Poster Biennale 2026 yang menghadirkan 88 karya terkurasi dari 25 negara.
Menurutnya, partisipasi desainer dari berbagai negara menunjukkan Indonesia tidak hanya memiliki talenta desain yang kuat, tetapi juga semakin dipercaya menjadi ruang pertemuan bagi komunitas desain internasional.
Riefky berharap Re:Rasa dapat terus berkembang menjadi salah satu platform desain internasional yang membanggakan Indonesia, dengan jejaring yang semakin luas serta memberikan dampak lebih besar bagi ekosistem desain nasional. Ia pun mendorong para desainer, khususnya generasi muda, untuk berani menunjukkan karya mereka ke dunia.
"Karya kreatif Indonesia bukan hanya mampu bersaing, tetapi juga memberi perspektif baru dalam percakapan desain global," tuturnya.
Re:Rasa International Poster Biennale 2026 merupakan kegiatan yang diinisiasi Program Studi DKV Universitas Paramadina. Kegiatan yang berlangsung pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 tersebut menampilkan 88 karya poster pilihan dari 25 negara.
Selain pameran poster lintas negara, kegiatan ini juga menghadirkan Artist Talk, Creative Workshop, dan Art Market yang menampilkan produk kreatif lokal, UMKM pilihan, serta kuliner dan F&B.









