TVRINews, Gorontalo
Tim 1 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (Unair) mendorong masyarakat di Kawasan Transmigrasi Sumalata, Gorontalo, memanfaatkan lebah trigona sebagai potensi ekonomi lokal.
Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan budidaya trigona. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengubah pandangan masyarakat yang selama ini menganggap lebah trigona sebagai hama.
Sebanyak 30 peserta mengikuti pelatihan tersebut, terdiri dari 26 warga perwakilan dari enam Satuan Permukiman (SP) dan empat anggota Yonif 824. Pelatihan dipandu praktisi trigona, Sudarsono.
Ketua Tim 1 Ekspedisi Patriot Unair, Johny Alfian Khusyairi, mengatakan pelatihan tersebut diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap keberadaan lebah trigona yang selama ini kerap diusir atau dibakar ketika membuat sarang di sekitar rumah.
"Kami ingin mengubah pandangan bahwa ini bukan hama, tapi lebah penghasil madu yang paling mahal. Harapannya kesejahteraan masyarakat meningkat, tapi alamnya tetap terpelihara," ujar Johny dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurutnya, trigona memiliki potensi ekonomi karena menghasilkan madu dengan nilai jual tinggi. Madu trigona dapat dijual sekitar Rp85 ribu per 100 mililiter atau mencapai Rp600 ribu hingga Rp650 ribu per liter.
Dalam pelatihan tersebut, warga mempelajari karakteristik lebah trigona, pengelolaan koloni, teknik pemanenan, hingga praktik membuat stup atau rumah lebah dari kayu dan bambu.
Pelatihan yang berlangsung di Desa Cempaka Putih, Tolinggula, itu juga memanfaatkan kondisi lingkungan setempat. Desa tersebut memiliki banyak tanaman buah yang dapat menjadi sumber pakan alami bagi lebah trigona.
Pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan kemudian dipraktikkan warga di rumah masing-masing. Setiap peserta membuat dua stup, sementara sebagian warga mengembangkan inovasi dengan menyambungkan selang dari sarang alami di pohon kelapa menuju stup buatan.
TEP Unair juga membagikan tiga stup yang telah berisi koloni untuk dikembangkan masyarakat. Koloni tersebut kemudian dipantau sebanyak sembilan kali di tujuh lokasi sepanjang Agustus hingga September 2026.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa ketersediaan pakan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan produktivitas madu trigona.
Karena itu, masyarakat didorong untuk mempertahankan tanaman buah di sekitar lokasi budidaya dan menghindari penggunaan pestisida agar ketersediaan pakan bagi lebah tetap terjaga.
Salah satu warga Cempaka Putih, Muhammad Sholeh, yang telah memelihara trigona selama dua tahun, mengaku baru dapat memanen sekitar 200 mililiter madu karena keterbatasan sumber pakan di sekitar sarangnya.
Sementara itu, sisa stup berisi koloni dijadwalkan diserahkan kepada masyarakat pada Oktober setelah ketersediaan pakan di lokasi penempatan dipastikan memadai. Adapun panen pertama peserta pelatihan diperkirakan mulai November 2026.
Pengembangan budidaya trigona tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan potensi lokal di kawasan transmigrasi untuk menciptakan nilai tambah ekonomi masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Upaya tersebut sejalan dengan Asta Cita kedua Presiden Prabowo Subianto mengenai kemandirian bangsa melalui pengelolaan sumber daya alam menjadi nilai tambah dan sumber pekerjaan.
Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono sebelumnya menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya alam harus memberikan nilai tambah dan menciptakan lapangan pekerjaan tanpa mengorbankan lingkungan.
Sementara itu, Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menilai kekayaan sumber daya alam dan bonus demografi merupakan modal penting bagi kemajuan bangsa apabila dikelola secara tepat.










