TVRINews, Jakarta
Nilai tukar (kurs) Rupiah pada Jumat, 10 Februari 2023 dibuka tergelincir 25 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp15.122 per Dollar AS dibandingkan poisisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.097 per Dollar As.
Pelemahan tersebut seiring dengan sentimen risk off (kondisi di mana investor cenderung menghindari risiko) di pasar.
“Rupiah diperkirakan masih akan melemah di tengah sentimen pasar yang risk off dan naiknya imbal obligasi Amerika Serikat (AS),” kata Analis DCFX Futures, Lukman Leong seperti yang dikutip dari kantor berita ANTARA, Jumat, 10 Februari 2023.
Lukman mengatakan sebagai dampak risk off, pelaku pasar melepas asset dan mata uang berisiko. Sementara imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik ke level 3,677 persen dan tenor 2 tahun meningkat ke posisi 4,492 persen.
Di sisi lain, investor menantikan beberapa pernyataan pejabat Bank Sentral AS atau The Fed malam ini, yang diharapkan akan memberikan sinyal pada kebijakan ke depan.
Usai dirilisnya data ketenagakerjaan nonpertanian atau non farm payrolls (NFP) yang kuat, dan antisipasi data inflasi AS pekan depan yang diperkirakan akan naik, investor kembali khawatir apabila The Fed akan kembali agresif menaikkan suku bunga dan mempertahankan tingkat suku bunga tinggi untuk waktu yang leib lama.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia pada 2022 tumbuh 5,31 persen dibanding tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Sementara perekonomian Indonesia pada triwulan IV-2022 juga tumbuh 5,01 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya (yoy) berkah seluruh lapangan usaha yang tumbuh positif.
Sedangkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2023 mencapai 129,4 miliar Dollar As, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Desember 2022 sebesar 137,2 miliar Dollar AS.
Lebih lanjut, Lukman memperkirakan nilai tukar Rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp15.050 per Dollar AS hingga Rp15.200 per Dollar AS.










