TVRINews – Jakarta
Pemerintah menegaskan fundamental ekonomi domestik tetap solid guna meredam proyeksi pelemahan rupiah yang mendekati level baru, di tengah volatilitas pasar global akibat ketegangan geopolitik.
Pemerintah Indonesia menyatakan keyakinannya bahwa stabilitas mata uang nasional masih terjaga dengan baik. Proyeksi nilai tukar yang sempat memicu perhatian pasar dinilai dapat diatasi melalui indikator makroekonomi yang kompetitif serta langkah intervensi terukur dari otoritas moneter.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pandangan positif tersebut usai memantau dinamika pasar keuangan domestik. Menurutnya, fondasi ekonomi makro yang kokoh menjadi penopang utama dalam menghadapi tekanan eksternal yang tengah melanda kawasan regional.
"Kami melihat ruang optimisme yang kuat berdasarkan kondisi makroekonomi saat ini," ujar Airlangga pada lama keterangan resminya Kamis 29 Oktober 2026.
Dinamika pasar valuta asing sebelumnya mencatatkan pergerakan fluktuatif. Berdasarkan Bank sentral Republik Indonesia, rupiah ditutup melemah 0,17 persen pada level Rp18.183 per dolar AS, setelah sempat menyentuh titik terendah harian di kisaran Rp18.188 per dolar AS. Capai tersebut merefleksikan posisi penutupan terlemah dalam sejarah perdagangan mata uang Garuda.
Tekanan terhadap rupiah dan sejumlah mata uang kawasan tidak terlepas dari tingginya ketidakpastian global, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Situasi tersebut berdampak langsung pada tertahannya harga minyak mentah dunia di atas level 115 dolar AS per barel, yang kemudian meningkatkan risiko fiskal serta ekspektasi penyesuaian suku bunga acuan Amerika Serikat.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa sentimen risk-off global memicu aksi pengalihan aset ke dalam dolar AS serta keluarnya aliran modal asing dari pasar negara berkembang, seiring kenaikan imbal hasil obligasi global.
Selain faktor eksternal, tekanan domestik turut dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi penyesuaian klasifikasi bursa saham nasional oleh lembaga pemeringkat global MSCI, serta lonjakan permintaan valuta asing menjelang akhir bulan. Kendati demikian, kinerja cadangan devisa nasional pada akhir September 2026 tercatat masih berada pada posisi aman di angka 146,3 miliar dolar AS.
Sebagai langkah antisipasi, Bank Indonesia memastikan komitmennya untuk terus berada di pasar guna memastikan mekanisme penawaran dan permintaan berjalan seimbang. Upaya stabilisasi dijalankan secara konsisten melalui instrumen transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Otoritas moneter juga mengintensifkan koordinasi strategis dengan para pelaku industri, korporasi, serta pemangku kepentingan terkait guna menjaga kepercayaan pasar terhadap stabilitas nilai tukar yang sejalan dengan nilai fundamentalnya.










