TVRINews – Jakarta
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak bervariasi dengan potensi konsolidasi lanjutan di tengah penantian keputusan suku bunga global, sementara bursa Wall Street Amerika Serikat justru mendulang tenaga dari reli sektor teknologi.
Pasar keuangan domestik pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026 dihadapkan pada fase konsolidasi yang cukup ketat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak fluktuatif di kisaran terbatas akibat tekanan jual yang masih membayangi pasca-sesi perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data perdagangan hari sebelumnya (Selasa, 27 Oktober 2026), IHSG sempat menyentuh posisi tertinggi di level 5.418,14 pada pukul 09:21 WIB, sebelum mengalami tekanan hingga menyentuh titik terendah di level 5.182,37 pada pukul 15:23 WIB.
Terdapat 478 saham yang turun lebih dari 2%. Kemudian 169 saham turun di bawah 2%, 215 saham stagnan, 49 saham naik di bawah 2%, dan 52 saham naik di atas 2%. Volume perdagangan melibatkan 35,18 miliar unit saham. Frekuensi perdagangan adalah 1,89 juta kali dan nilainya Rp 17,91 triliun.
Tekanan domestik ini terjadi di tengah kehati-hatian investor global yang memusatkan perhatian pada hasil rapat kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan merilis keputusan suku bunganya pekan ini.
Sejumlah sekuritas memperingatkan bahwa dinamika pasar masih dibayangi oleh sentimen penyesuaian portofolio, termasuk antisipasi pelaku pasar terhadap rencana rebalancing indeks yang dijadwalkan berlaku awal bulan depan.
Berdasarkan data yang dirilis Phintraco Sekuritas bahwa indikator teknikal menunjukkan pelebaran momentum negatif, sehingga ruang gerak indeks memerlukan kehati-hatian ekstra.
"Secara teknikal, indikator makro dan indikator momentum mengindikasikan potensi konsolidasi lanjutan di area pivot, di mana pelaku pasar cenderung menerapkan strategi jangka pendek di tengah volatilitas tinggi," ujar analis Phintraco Sekuritas dalam catatan riset hariannya.
Tekanan jual bersih (net foreign sell) oleh pemodal asing yang sempat mencatatkan nilai signifikan pada sesi sebelumnya turut menjadi variabel utama yang membatasi ruang penguatan. Sektor energi, barang baku, dan teknologi tercatat sebagai sektor yang mengalami tekanan paling dalam pada sesi perdagangan sebelumnya.
Kendati tekanan melingkupi bursa domestik, sentimen eksternal dari bursa saham utama Amerika Serikat, Wall Street, justru menunjukkan pemulihan positif. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite ditutup menguat didorong oleh optimisme investor menjelang publikasi laporan keuangan kuartalan dari korporasi raksasa teknologi, serta sentimen positif dari dinamika sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Penguatan bursa global ini diharapkan dapat memberikan katalis penahan kejatuhan yang lebih dalam bagi bursa regional Asia, termasuk pasar domestik Indonesia.
Para pelaku pasar diimbau untuk tetap mencermati perkembangan rilis data makroekonomi global dan domestik secara disiplin, serta memperketat manajemen risiko di tengah ketidakpastian likuiditas jangka pendek










