TVRINews - Jakarta
BPS catat kenaikan Indeks Perkembangan Harga di ratusan kabupaten/kota yang didorong komoditas cabai.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan sebanyak 309 kabupaten dan kota di Indonesia mencatatkan kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada pekan keempat Oktober 2026. Tekanan inflasi daerah ini sebagian besar didorong oleh eskalasi harga komoditas hortikultura, terutama cabai merah dan cabai rawit.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono sebelumnya, menyampaikan bahwa Pulau Sumatera menjadi wilayah dengan sebaran kenaikan kabupaten dan kota yang paling signifikan, khususnya di Provinsi Sumatera Barat.
"Jika dicermati berdasarkan kelompok pulau, wilayah Sumatera yang menunjukkan peningkatan jumlah kabupaten dan kota paling menonjol pada pekan keempat Oktober 2026 adalah Sumatera Barat," ujar Ateng, sebagaimana dikutip Selasa, 27 Oktober 2026.
Catatan lembaga statistik menunjukkan enam kabupaten dan kota di Sumatera Barat mengalami kenaikan IPH. Kabupaten Pesisir Selatan memimpin dengan lonjakan tertinggi mencapai 5,68 persen, diikuti oleh Kabupaten Padang Pariaman sebesar 5,47 persen, Kabupaten Agam sebesar 4,61 persen, serta kenaikan di Payakumbuh, Tanah Datar, dan Sawahlunto.
Di luar wilayah tersebut, tekanan harga juga terdeteksi di Provinsi Jambi, di mana Kabupaten Sarolangun naik 5,64 persen dan Muaro Jambi naik 3,68 persen.
Sementara itu, dinamika serupa terlihat di Pulau Jawa, dengan konsentrasi kenaikan tercatat di enam kabupaten dan kota di Jawa Timur termasuk Blitar (3,04 persen) dan Lamongan (2,61 persen) serta empat daerah di Jawa Tengah yang dipimpin Purbalingga sebesar 2,30 persen.
Secara makro, tiga provinsi mencatatkan kenaikan IPH di atas tiga persen dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Barat.
Di sisi lain, tren pelemahan harga atau penurunan IPH terdalam terjadi di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sebesar 5,23 persen, diikuti Bolaang Mongondow Timur serta sejumlah wilayah di Sumatera Utara seperti Nias Selatan dan Labuhanbatu Utara.
Dari perspektif komoditas penggerak, BPS mencatat lonjakan IPH akibat cabai merah meluas di 327 kabupaten dan kota, sementara cabai rawit berdampak di 269 daerah. Di sisi lain, komoditas beras juga menunjukkan eskalasi cakupan yang berdampak pada 138 kabupaten dan kota. Sebaliknya, penurunan harga secara umum terjadi pada komoditas bawang merah dan bawang putih di hampir 180 wilayah.
Perkembangan harga pangan nasional per 27 Oktober 2026 menunjukkan variasi pergerakan. Komoditas beras kualitas bawah hingga super bergerak pada kisaran Rp15.150 hingga Rp18.300 per kilogram dengan fluktuasi tipis positif.
Di sektor cabai, meskipun secara bulanan menjadi pemicu IPH, pantauan harian mencatat koreksi harga yang cukup tajam; cabai rawit merah berada di level Rp94.700 per kilogram (turun 10,19 persen) dan cabai merah keriting di posisi Rp81.750 per kilogram. Sementara itu, daging ayam ras diperdagangkan seharga Rp38.600 per kilogram, dan daging sapi kualitas 1 berada di kisaran Rp153.550 per kilogram.
BPS menekankan bahwa meskipun perubahan indeks untuk komoditas esensial seperti beras dan minyak goreng terpantau relatif stabil, tingkat harga aktual di pasaran tetap memerlukan monitoring ketat guna menjaga stabilitas daya beli masyarakat secara berkelanjutan.










