TVRINews – Jakarta
Gelombang Aksi Jual Lintas Aset Membayangi Pergerakan Keuangan Nasional di Awal Pekan
Nilai tukar rupiah menutup perdagangan awal pekan dengan pelemahan signifikan di tengah tekanan eksternal dan domestik yang membayangi pasar keuangan regional Asia.
Mata uang Garuda melemah 0,37% ke posisi Rp18.124 per dolar Amerika Serikat pada penutupan Senin 26 Oktober 2026 , sejalan dengan tren pelemahan sebagian besar mata uang di kawasan Asia. Tekanan tersebut utamanya dipicu oleh kekhawatiran pasar atas rencana peninjauan kembali klasifikasi pasar saham nasional, yang memicu aksi jual masif lintas aset baik di instrumen saham maupun surat utang negara.
Investor asing juga tercatat telah melepas surat utang Indonesia senilai bersih US$203 juta pada 21 Oktober, berdasarkan data Kementerian Keuangan.
Tekanan jual turut merambahi pasar obligasi domestik, ditandai oleh kenaikan imbal hasil (yield) pada hampir seluruh tenor. Obligasi tenor 1 tahun tercatat naik 1,4 basis poin menjadi 6,79%, sementara tenor acuan 10 tahun meningkat 1,3 basis poin ke level 7,46%. Kementerian Keuangan mencatat investor asing telah melakukan aksi lepas kepemilikan surat utang senilai bersih US$203 juta hingga pertengahan pekan lalu.
Di lantai bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut tertekan dengan koreksi sekitar 1% di tengah berlanjutnya arus keluar modal asing. Data perdagangan menunjukkan pelaku pasar global membukukan penjualan bersih saham sebesar US$71 juta menjelang akhir pekan lalu, seiring sentimen negatif dari rencana perubahan status pasar oleh penyedia indeks global.
Selain faktor domestik tersebut, gejolak eksternal turut disumbang oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang kembali bertahan di kisaran US$115 per barel. Kondisi ini meningkatkan risiko imported inflation atau inflasi impor yang dapat menguji ketahanan sektor eksternal Indonesia, di tengah posisi inflasi domestik yang berada di batas atas sasaran Bank Indonesia pada level 3,28%.
Menanggapi dinamika pasar tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti pada laman resminya , menilai fluktuasi yang terjadi masih berada dalam batasan wajar, seraya menegaskan komitmen bank sentral untuk terus memantau keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar valuta asing.
Ke depan, para pelaku pasar diperkirakan masih akan mengambil sikap konservatif menanti kepastian arah kebijakan suku bunga acuan Federal Reserve menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Tingginya tingkat imbal hasil aset berdenominasi dolar AS berpotensi membatasi daya tarik instrumen keuangan di negara-negara berkembang.










