TVRINews, Jakarta
Pertumbuhan tabungan masyarakat kecil kembali melambat, menandakan adanya potensi ketimpangan dalam pengelolaan kekayaan di sektor perbankan. Berdasarkan data terbaru Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pada Juli 2025, tabungan individu dengan saldo di bawah Rp100 juta hanya tumbuh 4,76% secara tahunan. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 4,89%.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, menyampaikan keprihatinannya atas perlambatan ini. Menurutnya, tren tersebut merupakan refleksi dari berbagai faktor struktural dan sosial yang sedang memengaruhi daya simpan masyarakat berpendapatan menengah ke bawah.
"Pergerakan pendapatan masyarakat, kebutuhan konsumsi musiman seperti tahun ajaran baru, serta dampak dari kebijakan fiskal dan bantuan sosial menjadi faktor yang memengaruhi menurunnya laju pertumbuhan tabungan di kelompok ini," kata Dian dalam keterangan yang dikutip, Rabu (10/9/2025).
Dian menambahkan, meskipun secara bulanan dan tahunan ada sedikit peningkatan pada nominal tabungan individu di bawah Rp100 juta masing-masing tumbuh 0,67% dan 5,54% namun kondisi di segmen terbawah, yakni tabungan di bawah Rp10 juta, masih menunjukkan kontraksi. Hal ini mengindikasikan tekanan ekonomi yang lebih berat dirasakan oleh masyarakat kelas ekonomi bawah.
Data LPS juga memperlihatkan bahwa pertumbuhan simpanan masyarakat kaya justru mengalami percepatan. Dalam periode Juli 2021 hingga Juli 2024, tabungan dengan saldo di atas Rp5 miliar tumbuh pesat sebesar 33,9%. Sebaliknya, kelompok dengan saldo di bawah Rp100 juta hanya tumbuh 11,9% dalam periode yang sama.
"Perbedaan ini menjadi sinyal penting bagi perbankan dan regulator untuk memperhatikan kesenjangan distribusi tabungan di masyarakat," ucap Dian.
Dalam menghadapi situasi ini, OJK mendorong perbankan untuk memperkuat likuiditas serta lebih proaktif dalam memasarkan produk penghimpunan dana masyarakat. Tidak hanya itu, edukasi keuangan juga menjadi prioritas.
"Bank perlu hadir tidak hanya sebagai tempat menyimpan uang, tapi juga sebagai mitra dalam perencanaan keuangan masyarakat. Penting bagi masyarakat memahami bagaimana menyeimbangkan pengeluaran dan pendapatan, serta menyisihkan dana darurat," tambahnya.
Dengan tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan kebutuhan masyarakat yang terus meningkat, OJK mengingatkan bahwa literasi keuangan bukan lagi sekadar pilihan, tapi kebutuhan mendesak untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Baca juga: MRT Jakarta Sabet Empat Penghargaan GRC










