TVRINews, Jakarta
Indonesia resmi ditetapkan sebagai Official Partner Country pada INNOPROM 2026, pameran industri internasional terbesar di kawasan Eurasia yang akan berlangsung di Ekaterinburg, Rusia. Keikutsertaan ini menjadi langkah strategis pemerintah untuk memperkuat kerja sama industri dengan Rusia dan negara-negara Eurasia, sekaligus mendorong investasi, ekspor, dan kolaborasi manufaktur.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan hubungan industri antara Indonesia dan Rusia telah memiliki dasar yang kuat. Menurutnya, partisipasi Indonesia dalam INNOPROM 2026 menjadi momentum untuk memperluas kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan melalui pertemuan langsung antarpelaku industri kedua negara.
“Hubungan Indonesia dan Rusia di bidang industri memiliki fondasi yang kuat. Yang kami lakukan sekarang adalah memastikan fondasi itu berkembang menjadi kemitraan yang konkret dan berkelanjutan. INNOPROM 2026 menjadi kesempatan penting untuk mempertemukan pelaku industri kedua negara secara langsung, meningkatkan investasi, serta membuka peluang kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi kedua pihak,”kata Agus dalam keterangan yang diterima tvrinews, dikutip, Senin, 22 Juni 2026.
Sebagai negara mitra resmi, Indonesia akan menghadirkan paviliun nasional seluas lebih dari 1.500 meter persegi, menjadikannya salah satu paviliun terbesar dalam ajang tersebut. Mengusung tema “Navigating Industrial Futures”, paviliun Indonesia akan menampilkan lima sektor unggulan, yakni industri agro dan pengolahan pangan, industri kimia dan farmasi, manufaktur khusus dan barang konsumsi, manufaktur lanjutan dan rekayasa, serta kawasan industri dan investasi.
Selain menjadi etalase potensi industri nasional, paviliun Indonesia juga akan menjadi lokasi berbagai agenda penting, mulai dari business matching, forum bisnis bilateral, hingga pertemuan tingkat tinggi antara delegasi pemerintah kedua negara.
Penguatan partisipasi Indonesia di INNOPROM 2026 didukung oleh tren positif hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia. Pada 2025, nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai sekitar USD 1,88 miliar, sementara realisasi investasi Rusia di Indonesia tercatat sebesar USD 262,8 juta.
Hubungan bilateral kedua negara juga terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Setelah pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang menghasilkan sejumlah kesepahaman strategis di bidang ekonomi dan industri, kedua pemimpin kembali bertemu di Moskow untuk memperdalam kerja sama di sektor energi, investasi, teknologi, hilirisasi, dan pengembangan industri.
Kerja sama tersebut semakin diperkuat melalui penandatanganan Indonesia–Eurasian Economic Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EAEU CEPA) yang membuka akses pasar lebih luas bagi produk Indonesia ke kawasan Eurasia sekaligus memperkuat kolaborasi perdagangan, industri, dan investasi.
Sejumlah kerja sama konkret juga mulai terjalin, di antaranya penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara PT PAL Indonesia dan Rosato terkait pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir terapung, serta penjajakan kerja sama antara Pupuk Indonesia dan Uralchem.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Tri Supondy, menegaskan Indonesia tidak sekadar hadir untuk mempromosikan diri dalam ajang tersebut. Menurutnya, INNOPROM 2026 diharapkan menjadi titik awal terbentuknya kemitraan jangka panjang antara Indonesia dan negara-negara Eurasia.
"Kami tidak datang ke Ekaterinburg hanya untuk memperkenalkan diri, dengan fondasi hubungan bilateral yang terlah terjalin kuat, Indonesia menargetkan INNOPROM 2026 sebagai titik awal kerja sama jangka panjang antara Indonesia dan mitra Eurasia,"ungkap Tri.
INNOPROM dikenal sebagai salah satu pameran dan forum industri paling berpengaruh di dunia. Bagi Indonesia, ajang ini menjadi sarana strategis untuk menarik investasi industri baru, memperkuat kolaborasi co-production dan joint manufacturing, memperluas akses pasar produk manufaktur nasional, serta memperkokoh posisi Indonesia sebagai mitra industri utama bagi Rusia dan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU).
Dengan status sebagai negara manufaktur terbesar di Asia Tenggara dan peringkat ke-13 dunia berdasarkan nilai Manufacturing Value Added (MVA), Indonesia memanfaatkan momentum INNOPROM 2026 untuk memperkuat daya saing industri nasional di pasar global. Indonesia juga mengikuti jejak Uni Emirat Arab dan Arab Saudi yang sebelumnya dipercaya menjadi Official Partner Country dalam pameran tersebut.










