TVRINews – Jakarta
Pasar memantau ketat data cadangan devisa serta perkembangan geopolitik energi global, dengan nilai tukar bertahan di kisaran Rp17.900 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak stabil pada perdagangan hari ini, Kamis 6 Agustus 2026, dengan posisi yang tetap bertahan di kisaran Rp17.900 per dolar AS. Pergerakan di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) terpantau kondusif, sementara rupiah offshore terkoreksi tipis 0,03% ke level Rp17.942 per dolar AS.
Sentimen positif turut datang dari pasar komoditas global. Harga minyak mentah dunia kembali mengalami tekanan pelemahan pada perdagangan pagi ini. Minyak Brent tercatat turun 0,49% menjadi US79,06perbarel,sedangkanWestTexasIntermediate(WTI)terkoreksi0,6674,72 per barel.
Penurunan harga energi global ini memberikan ruang penopang bagi sejumlah mata uang di kawasan Asia, meskipun dengan pergerakan yang lebih terbatas dibandingkan hari sebelumnya.
Ringgit Malaysia memimpin penguatan sebesar 0,08%, diikuti oleh won Korea Selatan sebesar 0,04%. Penguatan serupa juga dicatatkan oleh yen Jepang, yuan offshore, dolar Singapura, serta dolar Hong Kong.
Kendati tekanan dari sisi komoditas minyak mereda, para pelaku pasar tetap meningkatkan kewaspadaan. Investor masih menanti kejelasan diplomatik terkait potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, khususnya mengenai kepastian pembukaan jalur pasokan vital di Selat Hormuz.
Dari ranah domestik, perhatian pasar kini beralih pada rilis data cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan diumumkan esok hari. Angka cadangan devisa tersebut dinilai krusial sebagai instrumen penyangga ketahanan rupiah, di tengah dinamika global yang terus dibayangi potensi gangguan rantai pasok energi serta risiko kenaikan inflasi dunia.









