TVRINews, Jakarta
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year). Capaian positif perekonomian nasional ini ditopang oleh kuatnya aktivitas produksi industri pengolahan, tingginya konsumsi rumah tangga pada momentum hari besar keagamaan, serta ekspansi investasi pemerintah dan swasta.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, dalam penyampaian rilis Berita Resmi Statistik melalui siaran langsung tayangan YouTube BPS Statistics pada Rabu, 5 Agustus 2026.
"Pada hari ini BPS akan mengumumkan data 1. Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II tahun 2026, Indeks Kondisi dan Prosnek Bisnis Industri Manufaktur Triwulan II tahun 2026, Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia pada posisi Mei 2026, Profil Kemiskinan di Indonesia pada posisi Maret 2026, serta tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk untuk Maret tahun 2026," ujar Edy Mahmud.
"Sebagai pembuka rilis, saya akan menyampaikan beberapa peristiwa penting yang dapat berpengaruh terhadap beberapa indikator-indikator yang akan dirilis pada pagi ini. Pertama, saya akan menyampaikan catatan terkait kondisi ekonomi global, terutama yang mencerminkan kondisi Triwulan II tahun 2026," lanjut dia.
Edy menjelaskan bahwa proyeksi IMF per Juli 2026 mencatat pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,0 persen, sementara ekonomi negara berkembang tumbuh lebih tinggi yakni 3,8 persen dibandingkan tahun 2025. Perkembangan ekonomi sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia pada Triwulan II 2026 pun menunjukkan variasi.
Vietnam dan Malaysia tumbuh menguat baik dibanding Triwulan I 2026 maupun Triwulan II 2025. Singapura dan Korea Selatan menguat secara tahunan meski melambat dari triwulan sebelumnya. Sementara Amerika Serikat dan Tiongkok cenderung mengalami perlambatan. Selain itu, nilai perdagangan global untuk barang tercatat tumbuh lebih tinggi ketimbang sektor jasa.
"Dengan demikian, ekonomi beberapa mitra dagang utama Indonesia tetap tumbuh," tambahnya.
Menyampaikan ringkasan pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan II 2026, Edy menerangkan bahwa dari sisi lapangan usaha atau produksi, sektor industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, serta informasi dan komunikasi menjadi penyumbang utama. Pertumbuhan pada sektor-sektor ini dipicu oleh peningkatan aktivitas produksi dalam memenuhi tingginya permintaan pasar domestik.
Sementara dari sisi pengeluaran, penopang terbesar pertumbuhan ekonomi triwulan ini berasal dari konsumsi rumah tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), dan konsumsi pemerintah. Peningkatan konsumsi masyarakat turut terdorong oleh momentum libur panjang serta Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), disusul ekspansi investasi swasta dan pemerintah.
"Ringkasan pertumbuhan ekonomi pada Triwulan II 2026 dapat kami sampaikan. Yang pertama adalah ekonomi Indonesia pada Triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,29 persen secara year on year. Dari sisi produksi penyumbang utama pertumbuhan ekonomi di Triwulan II 2026 adalah industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, serta informasi dan komunikasi. Hal ini didorong oleh peningkatan aktivitas produksi untuk memenuhi permintaan domestik," jelasnya.
"Dari sisi pengeluaran, penyumbang utama pertumbuhan ekonomi Triwulan II 2026 adalah konsumsi rumah tanggal, PMTB, dan konsumsi pemerintah. Hal ini didorong oleh konsumsi masyarakat karena momentum libur dan hari besar keagamaan nasional serta peningkatan investasi yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta," sambungnya..
Dari segi spasial atau kewilayahan, BPS mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, serta wilayah Sulawesi berhasil tumbuh tinggi hingga melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan II 2026.
"Pada Triwulan II tahun 2026 ini wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dan wilayah Sulawesi tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional," kata Edy.









