TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar menilai body art memiliki potensi besar menjadi kekuatan storytelling Indonesia yang dapat dikembangkan menjadi berbagai karya kreatif berbasis intellectual property (IP).
Menurut Irene, praktik body art di Indonesia memiliki akar budaya yang kuat dan telah lama menjadi bagian dari identitas komunitas di Nusantara. Salah satu contohnya adalah tradisi Tato Mentawai yang sarat makna filosofis dan cerita kehidupan masyarakat setempat.
"Nenek moyang kita sudah lama menggunakan body art untuk mengekspresikan identitas dan cerita komunitas mereka melalui pola-pola yang memiliki makna mendalam. Storytelling seperti ini bisa dikembangkan menjadi film, buku, maupun karya kreatif lainnya agar Indonesia semakin dikenal sebagai pusat brand dan kreativitas," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Rabu, 20 Mei 2026.
Ia menegaskan, body art tidak hanya dipandang sebagai ekspresi personal, tetapi juga bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang mampu terhubung dengan subsektor lain seperti fotografi, desain visual, otomotif, hingga industri konten.
Kemudian, ia menyebut dalam Maxdecal Inkverse Fest 2026, kolaborasi lintas subsektor terlihat melalui keterlibatan komunitas otomotif, fotografer, hingga brand motor internasional seperti Harley-Davidson yang menjadikan body art sebagai medium seni dan identitas kreatif.
"Ajang ini menarik karena body art tidak hanya hadir sebagai karya personal, tetapi juga menggunakan otomotif sebagai medium seni. Ada fotografer yang mendokumentasikan karya dan storyteller yang mampu mengangkat makna di balik setiap desain yang ditampilkan," ucapnya.
Festival bertema "Where Ink Becomes Identity" itu akan digelar pada 30–31 Mei 2026 di The Brickhall, Fatmawati City Center, Jakarta Selatan. Kegiatan tersebut mempertemukan seniman body art dengan komunitas kreatif lain dalam satu panggung kolaboratif berskala internasional.
Selain mendorong penguatan storytelling berbasis budaya, Kementerian Ekonomi Kreatif juga membuka peluang kolaborasi edukasi terkait pentingnya pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi pelaku ekonomi kreatif, khususnya di subsektor desain komunikasi visual dan body art.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran pelaku industri kreatif dalam melindungi karya sekaligus memperkuat nilai tambah ekonomi berbasis IP Indonesia.










