TVRINews – Jakarta
Mata uang Indonesia menyentuh level terendah baru di Rp17.730 per dolar AS saat pasar mengantisipasi keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia siang ini.
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu 20 Mei 2026.
Pergerakan ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar yang tengah mengantisipasi pengumuman kebijakan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) beberapa jam mendatang.
Berdasarkan data pasar komprehensif, mata uang Garuda melemah 0,20 persen ke posisi Rp17.730 per dolar AS pada awal sesi perdagangan.
Depresiasi ini memperpanjang tren koreksi dari hari sebelumnya, di mana rupiah ditutup merosot 0,31 persen ke level Rp17.695 per dolar AS sebuah rekor penutupan terendah dalam sejarah finansial domestik.
Sentimen negatif terhadap mata uang lokal dipertegas oleh keperkasaan dolar AS di pasar global.
Indeks DXY, yang melacak performa greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat 0,07 persen ke level 99,398 pada pagi hari.
Antisipasi Kenaikan BI Rate
Fokus pasar hari ini tertuju sepenuhnya pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Kebijakan moneter yang akan diumumkan siang nanti dianggap sebagai instrumen krusial untuk meredam volatilitas pasar keuangan domestik yang kian intensif.
Di sisi fundamental ekonomi makro, pelaku pasar juga mencermati laporan postur anggaran negara yang menunjukkan perbaikan bertahap.
Kementerian Keuangan melaporkan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 30 April 2026 tercatat sebesar Rp164,4 triliun, atau setara dengan 0,64 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka tersebut menunjukkan penyusutan signifikan dibandingkan posisi akhir Maret 2026 yang sempat menyentuh Rp240,1 triliun (0,93 persen dari PDB).
Perbaikan performa fiskal ini didorong oleh pertumbuhan penerimaan sektor perpajakan yang tetap konsisten di zona ekspansif ganda.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pandangan optimistis terkait dinamika anggaran ini, seraya menekankan perlunya analisis yang komprehensif hingga akhir tahun anggaran.
"Kemarin waktu Maret 0,93 persen, sekarang kalau 0,64 persen bulan April. Kalau dikali empat setahun kira-kira 1,8 persen, tapi kalau cara analis tidak begitu. Ini belum nari-nari," ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dikutip Rabu 20 Mei 2026.










