TVRINews – Jakarta
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan indikator makroekonomi saat ini jauh lebih stabil dibandingkan krisis moneter 1998.
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini terjadi berada di atas fundamental ekonomi yang kokoh, sekaligus membantah kekhawatiran publik mengenai potensi berulangnya krisis finansial hebat seperti tahun 1998.
Mata uang rupiah sempat menyentuh angka Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari Selasa 19 Mei 2026.
Pergerakan ini memicu ingatan kolektif terhadap krisis moneter dua dekade silam, ketika kolapsnya nilai tukar menyeret perekonomian domestik ke jurang resesi terdalam.
Namun, dalam keterangan resmi yang dirilis oleh Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, otoritas keuangan menekankan bahwa lanskap ekonomi makro saat ini memiliki ketahanan yang jauh lebih matang.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa menyamakan fluktuasi mata uang saat ini dengan situasi pada tahun 1998 adalah sebuah kekeliruan fundamental.
Ia menggarisbawahi peran stabilitas sosial-politik dan arah kebijakan sebagai pembeda utama.

(Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: @menkeuri))
"Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda, 1998 itu kebijakannya salah dan instability sosial-politik terjadi setelah setahun kita resesi," ujar Purbaya dalam pernyataan tertulisnya, Selasa 19 Mei.
Kontras Indikator Makro
Secara historis, krisis 1998 ditandai oleh hiperinflasi yang menembus angka 77 persen, menghancurkan daya beli masyarakat secara masif.
Sebaliknya, data per April 2026 menunjukkan laju inflasi domestik masih terkendali di level 2,41 persen, bergerak sesuai dengan target sasaran bank sentral pada kisaran 13 Persen.
Dari aspek pertumbuhan ekonomi, kontras antar-era ini terlihat semakin nyata:
• Produk Domestik Bruto (PDB): Pada tahun 1998, pertumbuhan ekonomi nasional terkontraksi hingga minus 13 persen. Sementara pada kuartal pertama tahun 2026, ekonomi Indonesia mencatatkan ekspansi positif sebesar 5,61 persen, didorong oleh aktivitas investasi dan konsumsi rumah tangga yang tetap solid.
• Bantalan Likuiditas : Ketahanan eksternal Indonesia kini ditopang oleh posisi cadangan devisa yang kuat, mencapai USD 146 miliar per April 2026. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan dengan cadangan devisa tahun 1998 yang hanya berada di kisaran USD 17,4 miliar.
Kesehatan Sektor Perbankan
Sektor keuangan domestik juga menunjukkan struktur yang jauh lebih sehat dibanding masa lampau, di mana pada tahun 1998 banyak institusi perbankan mengalami gagal modal akibat rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang melambung hingga 30 persen.
Berdasarkan data otoritas per Februari 2026, Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan nasional berada di level kokoh sebesar 25,83 persen.
Di saat yang sama, risiko sistemik berhasil dimitigasi dengan rasio NPL bruto yang terjaga rendah di posisi 2,17 persen.
Pemerintah optimistis bahwa struktur perbankan saat ini memiliki modal atau bantalan likuiditas yang cukup tebal untuk meredam volatilitas dari sentimen global.
"Jadi fondasi kita memang betul-betul bagus, tidak usah khawatir," tutup Purbaya, menegaskan bahwa meski terjadi tekanan nominal terhadap mata uang, kapasitas ekonomi riil Indonesia berada dalam kondisi yang sepenuhnya berbeda.










