TVRINews – Jakarta
Wamentan Sudaryono memastikan pasokan pangan domestik jauh lebih stabil dibanding negara lain saat ini.
Pemerintah menegaskan bahwa ketahanan pangan Indonesia saat ini berada dalam posisi yang solid dan relatif aman dari ancaman krisis global yang tengah melanda berbagai belahan dunia.
Kendati dibayangi ketidakpastian geopolitik dan perubahan iklim, pasokan komoditas pokok di dalam negeri dipastikan tetap terkendali.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memaparkan bahwa stabilitas domestik ini patut disyukuri di tengah situasi internasional yang kian penuh tantangan.
Menurutnya, fokus utama pemerintah saat ini adalah menjamin ketersediaan fisik bahan pangan bagi masyarakat.

(Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono ( Kanan Kedua) saat paparan bersama Komisi IV DPR RI (Foto: Youtube TVR Parlemen))
"Di tengah kondisi krisis saat ini, saat dunia sedang tidak baik-baik saja, dan Alhamdulillah Indonesia dalam keadaan yang baik-baik saja. Terlepas dari harga yang sedang naik, mungkin yang perlu kita syukuri adalah ketersediaan, sekarang ini kondisinya masih tersedia," ujar Sudaryono dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa 19 Mei 2026.
Antisipasi Ancaman Kelaparan Global
Ketahanan pangan domestik menjadi kian krusial menyusul adanya peringatan dini dari lembaga internasional terkait risiko krisis pangan akut tahun ini.
Sudaryono mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto telah menerima laporan analisis dari badan pangan Amerika Serikat mengenai potensi terjadinya kelaparan massal global akibat eskalasi geopolitik dan disrupsi iklim.
Skenario buruk tersebut menuntut Indonesia untuk memperkuat benteng pangan melalui penguatan cadangan beras nasional.
"Ketersediaan beras Indonesia saat ini menjadi krusial di tengah krisis global yang sedang terjadi," tutur Sudaryono, sembari menekankan pentingnya langkah antisipatif pemerintah.
Rekor Baru Cadangan Beras Pemerintah
Optimisme pemerintah didukung oleh realisasi data sektor pangan yang menunjukkan tren positif. Berdasarkan catatan Badan Pangan Nasional (Bapanas), stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola oleh Perum Bulog menembus angka 5,37 juta ton. Angka ini mencatatkan lembaran baru dalam sejarah pengelolaan pangan nasional.
"Stok total 2025 sampai dengan 18 Mei 2026 mencapai 5,37 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia Pemerintah," kata Sudaryono.
Tingginya akumulasi stok tersebut ditopang oleh agresifnya penyerapan gabah dan beras domestik sepanjang awal tahun 2026.
Hingga 18 Mei 2026, realisasi pengadaan telah menyentuh 2.821.603 ton. Angka tersebut setara dengan 70,54 persen dari total target penugasan tahun ini yang dipatok sebesar 4 juta ton.
Optimisme Menuju Target Tahunan
Meski Bulog masih harus menghimpun sekitar 1,2 juta ton sisa target untuk sisa tahun ini, Kementerian Pertanian tetap optimistis target tersebut akan terpenuhi dalam waktu dekat.
Ekspektasi ini didasarkan pada proyeksi panen raya yang dinilai masih sangat potensial pada periode kuartal kedua.
Kementerian Pertanian memperkirakan luas panen pada bulan Mei ini dapat mencapai 929.000 hektare, atau dikonversikan setara dengan 2,75 juta ton beras.
Sementara itu, potensi luasan panen pada bulan Juni diproyeksikan berada di angka 841.000 hektare, yang diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 2,47 juta ton beras.
Melalui volume produksi dalam negeri yang terjaga, pemerintah meyakini Indonesia memiliki fundamen yang kuat untuk meredam eksternalitas negatif dari krisis pangan global.










