TVRINews, Jakarta
Direktur Utama PGN Arief K. Risdianto mengatakan pihaknya mendukung penuh kebijakan pemerintah terkait penyesuaian harga LNG untuk sektor industri.
"Sebagai Subholding Gas Pertamina dan salah satu badan usaha penyalur dan niaga gas, PGN mendukung penuh kebijakan tersebut dan siap mengimplementasikan seluruh ketentuan yang telah ditetapkan Kementerian ESDM," kata Arief dalam keterangan tertulis yang dikutip oleh tvrinews.com, Selasa, 30 Juni 2026.
PGN juga memastikan pasokan gas bumi bagi sektor industri tetap terjaga agar kegiatan produksi tidak terganggu.
"Kami akan terus memastikan pasokan gas bumi tetap andal, aman, dan berkelanjutan guna mendukung daya saing industri, memperkuat ketahanan energi nasional, serta memberikan manfaat bagi perekonomian dan masyarakat," ujar Arief.
Arief turut mengapresiasi pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang telah menetapkan kebijakan tata kelola harga gas bumi dengan mempertimbangkan kepentingan seluruh pemangku kepentingan.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan pemerintah menurunkan harga LNG untuk industri menjadi 13 dolar AS per MMBTU dari sebelumnya berada pada kisaran 20 hingga 23 dolar AS per MMBTU.
Menurut Bahlil, kebijakan tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga keberlangsungan industri sekaligus mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Atas dasar arahan Bapak Presiden bahwa Presiden berkepentingan betul untuk menjaga industri dan lapangan pekerjaan," kata Bahlil.
Ia menjelaskan sebelumnya kalangan industri mengusulkan harga LNG sekitar 16 dolar AS per MMBTU. Setelah melalui perhitungan dan mendapat persetujuan Presiden, pemerintah memutuskan menetapkan harga sebesar 13 dolar AS per MMBTU.
Bahlil menegaskan persoalan tingginya harga LNG bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan gas nasional, melainkan biaya distribusi dan proses regasifikasi yang tinggi, terutama untuk pasokan di luar Pulau Jawa.
"Secara akumulasi lifting gas kita itu mencapai target APBN. Karena itu gas tidak kita impor. Jadi masalahnya bukan tidak adanya gas, gas ada tapi harga LNG-nya yang mahal. Jadi kita sudah memutuskan untuk LNG industri harganya 13 dolar per MMBTU," tutur Bahlil.










