TVRINews, Surabaya
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia saat ini berada dalam kondisi surplus pangan, khususnya beras, di tengah ancaman krisis pangan dan energi global.
Menurut Amran, beras kerap menjadi tolok ukur utama dalam ketahanan pangan nasional karena merupakan komoditas yang paling dominan dikonsumsi masyarakat Indonesia.
“Di saat krisis pangan global maupun energi, Indonesia sekarang surplus pangan, khususnya beras. Kenapa pangan sering identik dengan beras? Karena konsumsi masyarakat kita memang didominasi beras,” ujar Amran di Gudang Ramokalisari, Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 13 Mei 2026.
Ia bahkan mengungkapkan adanya permintaan dari India hingga Malaysia untuk pasokan beras Indonesia sebesar 500 ribu ton. Hal itu disebutnya sebagai indikator meningkatnya posisi Indonesia dalam peta ketahanan pangan dunia.
Amran menegaskan stabilitas pangan nasional tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam menjaga ketersediaan sarana produksi pertanian. Di tengah kelangkaan pupuk yang terjadi di berbagai negara, Indonesia justru mampu menurunkan harga pupuk hingga 20 persen.
“Di saat pupuk langka di tingkat dunia, Indonesia menurunkan harga 20 persen dan itu tidak pernah terjadi selama Republik ini berdiri,” kata Amran.
Selain itu, ia menyebut harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi juga tetap stabil. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi faktor penting dalam menjaga biaya produksi pertanian sekaligus kestabilan harga pangan selama dua periode Ramadan terakhir.
Meski demikian, Amran mengakui masih terdapat tantangan distribusi di sejumlah wilayah karena karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau.
“Terkadang ada satu wilayah yang harga naik karena persoalan transportasi. Ini tantangan distribusi yang harus terus kita benahi,” ucap Amran.
Lebih lanjut, Amran menyampaikan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif menghadapi ancaman perubahan iklim seperti El Nino.
Ia mencontohkan pembangunan infrastruktur pertanian yang mulai diperkuat sejak 2015 dan terus diperbaiki pada periode 2023-2024.
Perbaikan tersebut meliputi penguatan sarana produksi, termasuk penyediaan benih unggul tahan kekeringan yang dinilai mampu menjaga produktivitas saat kondisi cuaca ekstrem.
Amran juga menegaskan stok produksi nasional dinilai cukup kuat untuk menghadapi potensi gangguan iklim hingga berbulan-bulan. Menurutnya, selama periode El Nino produksi minimal masih berada di angka 2 juta ton per bulan.
“Kalau dua juta ton dikali enam bulan berarti 12 juta ton. Artinya kita bisa aman sampai Juni hingga Agustus,” tutur Amran.
Di sisi lain, Amran menyoroti reformasi tata kelola distribusi pupuk yang kini dipangkas secara signifikan. Jika sebelumnya terdapat 145 regulasi yang menghambat penyaluran, kini distribusi pupuk disebut hanya melalui tiga tahapan langsung dari produsen hingga petani.
“Sekarang dari produsen Pupuk Indonesia langsung ke petani hanya tiga langkah. Ini membahagiakan petani seluruh Indonesia,” kata Amran.










