TVRINews – Jakarta
Harga cabai dan ayam turun tajam, sementara beras dan gula terpantau naik.
Dinamika harga pangan di pasar tradisional Indonesia menunjukkan volatilitas yang signifikan pada perdagangan Rabu 6 Mei 2026.
Merujuk pada data terbaru Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang dirilis Bank Indonesia, sektor hortikultura dan daging ayam mencatat penurunan tajam, sementara komoditas pokok seperti beras dan gula justru melanjutkan tren penguatan.
Deflasi pada Sektor Hortikultura
Komoditas cabai menjadi motor utama penurunan harga pangan hari ini. Cabai rawit hijau mencatat koreksi terdalam sebesar 14,61%, kini diperdagangkan di level Rp41.500 per kilogram.
Penurunan ini diikuti oleh kelompok cabai lainnya, termasuk cabai merah keriting yang turun ke angka Rp51.150 per kilogram.
Sektor bawang juga menunjukkan relaksasi harga yang cukup besar. Bawang merah kini dibanderol Rp49.100 per kilogram, atau menyusut sekitar 6,62% dari periode sebelumnya.
Penurunan yang lebih signifikan terlihat pada bawang putih yang terkoreksi 12,83% menjadi Rp44.400 per kilogram.
Ketahanan Harga Beras dan Protein
Berbanding terbalik dengan sayuran, harga beras di seluruh provinsi terpantau masih bergerak fluktuatif namun cenderung tinggi.
Beras kualitas medium I berada pada posisi Rp16.200 per kilogram, sementara kualitas super II mencapai Rp17.800 per kilogram.
Di sektor protein hewani, terjadi anomali pasar di mana harga daging ayam ras segar merosot 8,68% ke level Rp35.250 per kilogram.
Namun, daya beli konsumen terhadap daging sapi justru diuji dengan kenaikan harga; kualitas 1 kini menyentuh Rp150.900 per kilogram, sementara kualitas 2 naik sebesar 5,11%.
Tekanan Inflasi pada Gula dan Minyak Goreng
Kelompok komoditas pemanis juga memberikan tekanan inflasi. Gula pasir premium mengalami lonjakan 9,38% menjadi Rp22.150 per kilogram.
Di sisi lain, harga minyak goreng bergerak variatif; meski versi curah turun ke Rp19.500 per kilogram, minyak goreng kemasan bermerek tetap bertahan di atas angka Rp23.000 per kilogram.
Analis pasar melihat pergerakan ini sebagai refleksi dari ketersediaan stok di tingkat distributor yang mulai kembali normal untuk komoditas hortikultura, namun masih menghadapi tantangan distribusi pada komoditas beras dan gula nasional.










