TVRINews, Jakarta
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menghadirkan Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Culinary Festival 2026 sebagai wadah inklusif bagi pelaku usaha makanan dan minuman untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara kepada masyarakat.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan festival tersebut dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi pelaku usaha kuliner untuk mempromosikan beragam hidangan Indonesia beserta cerita, tradisi, dan kearifan lokal yang menyertainya.
“Kehadiran Culinary Festival juga sekaligus menjadi ruang promosi dan akses pasar yang lebih luas bagi para pelaku usaha makanan dan minuman,” kata Widiyanti dalam keterangan tertulis yang dikutip oleh tvrinews.com, Kamis, 15 Oktober 2026.
Festival ini berlangsung pada 7 Oktober hingga 1 November 2026, secara serentak di 34 pusat perbelanjaan yang tersebar di 17 kota di Indonesia.
Sejumlah wilayah penyelenggaraan meliputi Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Magelang, Surakarta, Sleman, Sukoharjo, Pontianak, Palembang, Bali, dan Yogyakarta.
Penyelenggaraan tahun ini sekaligus memperluas cakupan program Wonderful Indonesia Gastronomy, yang sebelumnya dikenal sebagai Wonderful Indonesia Gourmet pada 2025.
Jika tahun lalu program tersebut memperkenalkan gastronomi kontemporer di Jakarta dan Bali, tahun ini Kemenpar turut mengangkat akar sejarah, tradisi, dan budaya kuliner melalui rangkaian kegiatan di Surakarta dan Yogyakarta.
Program tersebut melibatkan berbagai unsur ekosistem kuliner, mulai dari petani, produsen pangan artisan, pengusaha kuliner, hingga koki profesional. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat keterhubungan antara kekayaan bahan pangan lokal, produk kuliner, dan pengalaman wisata.
Widiyanti menilai gastronomi memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kekuatan pariwisata Indonesia.
Wisata kuliner tidak hanya menawarkan pengalaman menikmati makanan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mengenal sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat di daerah asal hidangan tersebut.
Berdasarkan data yang disampaikan Kemenpar, sektor penyediaan makan dan minum pada 2025 menyumbang Rp503,5 triliun atau sekitar 2,11 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
“Visi kami adalah memperluas pengenalan terhadap destinasi, produk, dan talenta kuliner Indonesia, mendorong transaksi bagi pelaku usaha, serta mengembangkan kekayaan lokal menjadi pengalaman wisata yang bermakna,” ujar Widiyanti.
Menurutnya, pengembangan gastronomi tidak hanya berorientasi pada peningkatan konsumsi. Upaya tersebut juga dapat menjadi sarana pelestarian warisan budaya, penguatan identitas daerah, dan pemerataan manfaat ekonomi pariwisata.
Melalui pengalaman kuliner yang autentik, wisatawan diharapkan tertarik mengunjungi langsung destinasi asal makanan, mengenal budaya setempat, dan menikmati kekayaan gastronomi di daerah tersebut.
Kemenpar berharap WIG Culinary Festival 2026, yang digelar bersama Indonesia Gastronomy Network (IGN) dan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), dapat memperluas akses pasar pelaku usaha sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kuliner Nusantara.
Dalam penyelenggaraan di Mal Kota Kasablanka, Jakarta, festival ini berkolaborasi dengan Anne Avantie untuk mempromosikan beragam kuliner khas Semarang. Hidangan yang diperkenalkan antara lain tahu petis, lumpia, tahu pong, kue sisir, dan es gempol pleret.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan kekayaan kuliner daerah melalui pusat perbelanjaan yang dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat.
“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa promosi pariwisata dapat dilakukan di berbagai ruang, termasuk pusat perbelanjaan yang menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat ini. Tujuan akhirnya adalah membangkitkan minat masyarakat untuk berkunjung langsung ke destinasi menikmati kekayaan kuliner kita,” ucap Widiyanti.
Selain mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen, penyelenggaraan festival diharapkan membuka peluang kerja sama berkelanjutan antara pengusaha kuliner, pengelola pusat perbelanjaan, dan mitra usaha lainnya.
Widiyanti berharap kegiatan tersebut mampu menggerakkan transaksi sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, termasuk bagi para pelaku usaha dan rantai pasoknya.
“Melalui festival ini, kami berharap dapat meningkatkan traffic pengunjung pusat perbelanjaan, mendorong transaksi di gerai makanan dan minuman, serta menggerakkan aktivitas ekonomi yang manfaatnya menjangkau para pelaku usaha dan rantai pasoknya,” tutur Widiyanti.










