TVRINews – Jakarta
Lonjakan Harga Minyak Dunia dan Isu Regulasi Mendorong Pelemahan Indeks Saham
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan dengan koreksi tajam pada Selasa 13 Oktober 2026. Sentimen negatif gabungan dari ketegangan geopolitik Timur Tengah, lonjakan harga minyak mentah dunia, serta ketidakpastian regulasi pasar modal domestik memicu aksi jual meluas oleh para investor.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks merosot 69,35 poin atau 1,17 persen ke posisi 5.866 pada sepuluh menit pertama perdagangan pukul 09.10 WIB. Aktivitas transaksi awal melibatkan 3,49 miliar lembar saham dengan nilai mencapai Rp1,32 triliun lewat 190.796 kali transaksi. Mayoritas saham berada di zona merah, dengan 406 saham melemah, 166 saham menguat, dan 158 saham stagnan.
Penurunan ini membawa IHSG menembus batas bawah psikologis 6.000. Analis BRI Danareksa Sekuritas mengonfirmasi bahwa indikator teknikal seperti pola Rising Wedge, Head and Shoulders, serta indikator MACD menunjukkan tekanan bearish yang kuat.
"Secara teknikal, zona support berada di rentang 5.850 hingga 5.900. Apabila level ini terlewati, risiko penurunan lebih dalam dapat terjadi. Sebaliknya, level 6.000 hingga 6.019 menjadi area resistance kunci yang harus kembali ditembus untuk meredakan tekanan jual," tulis riset harian BRI Danareksa Sekuritas, Selasa 13 oktober 2026.
Faktor eksternal menjadi pemicu utama gejolak pasar finansial. Escalation militer di Timur Tengah pasca-serangan milisi Houthi terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, melipatgandakan kekhawatiran pasokan energi. Di saat bersamaan, gangguan produksi akibat badai di Teluk Meksiko serta ketegangan pasokan gas di Eropa Timur mendorong harga minyak mentah melampaui level US$106 per barel.
Di sisi lain, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati menantikan rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga global dan pergerakan Dolar AS.
Dari dalam negeri, sentimen investor tertahan oleh isu penyesuaian bobot indeks MSCI serta kekhawatiran akan pengetatan regulasi free float. Sentimen ini berisiko memicu pemicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan memperberat tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.
Kendati demikian, kenaikan harga komoditas energi dan mineral logam dinilai dapat memberikan penahan parsial terhadap penurunan indeks yang lebih dalam.










