TVRINews, Batam
Ditengah krisis global, permintaan pasar global manufaktur minyak dan gas (migas) seakan kontradiktif. Diketahui krisis global akibat konflik berkepanjangan antara ukraina-rusia dan israel-palestina berdampak hampir di semua sektor, namun tidak bagi industri manufaktur minyak dan gas. Meski pasar semakin kompetitif, namun perusahaan manufaktur migas dalam negeri bisa memanfaatkan peluang ekspor ke berbagai negara hingga Amerika Serikat.
Hal ini diungkapkan Momon Hartanto, CEO servotech indonesia, perusahaan manufaktur migas dalam negeri yang telah melakukan ekspor produk migas ke berbagai negara diantaranya India, dan Uni Emirat Arab (UAE).
“Krisis global kontradiktif, kebutuhan energi terbalik. Krisis iya, peluang untuk divisi kita lagi bagus-bagusnya, karenanya harus manfaatkan momen. Produk manufaktur migas pasar global memang high end, namun contoh kita material pipa seharga 950 dollar, setelah produksi dijual menjadi 3800-4500 dollar per tonnya.” Katanya.
Target pasar ekspor manufaktur migas yang berpeluang menurut Momon saat ini yaitu Amerika Serikat. Kebijakan dumping Amerika Serikat terhadap Tiongkok sebagai kompetitor dinilai bisa menjadi peluang bagus untuk perusahaan indonesia masuk dalam bursa.
“Ekspor ada benefit, china kebijakan dumping amerika. Produk indonesia masuk sana peluang.” Tambahnya.
Namun diakui Momon, kendala dan tantangan yang dihadapi untuk masuk pasar ekspor Amerika Serikat dibutuhkan syarat khusus dengan menaikan lokal konten selain sertifikasi yang telah dimiliki. Sementara untuk menaikan lokal konten dibutuhkan suntikan modal besar yang juga menjadi kendala bagi perusahaan dalam negeri, karena perbankan seringkali tidak percaya.
“Ini produk high end, ini kritikal, produk indonesia kadang-kadang diragukan perbankan, proven kita harus.” Ujarnya.
Guna mensupport perusahaan dalam negeri agar mampu melakukan ekspansi ekspor, pembiayaan dalam negeri Widia Citra Nusantara (WCN) foundation memberikan skema pembiayaan yang memudahkan pelaku usaha yaitu dengan sistem bagi hasil. Diharapkan dengan skema pembiayaan ini perusahaan dalam negeri maupun UMKM bisa bertumbuh.
“Sistem bagi hasil aja, 10 % per tahun. kita tidak mau merepotkan. Bagaimana perusahaan bisa berkembang.” Ujar ketua WCN foundation, Febryan Adhitya.
Dengan bertumbuhnya pilar-pilar perekonomian nasional, kondisi ekonomi negara diharapkan bisa stabil bahkan meningkat meski ditengah krisis global.










