TVRINews – Jakarta
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan pertumbuhan ekonomi semester pertama 2026 sebesar 5,45 persen di hadapan Komisi XI DPR RI, menegaskan stabilitas makroekonomi dan kepercayaan global tetap terjaga kokoh di tengah ketidakpastian global.
Di tengah dinamika pasar keuangan global yang bergejolak, fundamental ekonomi Indonesia membuktikan ketahanan yang luar biasa. Pemerintah melaporkan bahwa indikator-indikator utama domestik tetap berada pada jalur positif, mencerminkan efektivitas bauran kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi secara cermat.
Dalam pemaparan resminya di hadapan Komisi XI DPR RI pada Senin, 7 September 2026, Menteri Keuangan Purbaya memaparkan kinerja perekonomian nasional semester pertama tahun 2026 yang tumbuh solid sebesar 5,45 persen secara kumulatif. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa daya beli masyarakat dan aktivitas produktif nasional mampu meredam tekanan eksternal.
Indikator Makro dan Ketahanan Fiskal
Selain pertumbuhan ekonomi yang impresif, tingkat inflasi per Agustus 2026 tercatat terkendali di level 3,19 persen secara tahunan (yoy). Neraca perdagangan nasional pun terus membukukan surplus, mencapai USD 3,7 miliar pada periode Januari hingga Juli 2026.
Sementara itu, cadangan devisa nasional pada akhir Agustus 2026 berada di posisi yang sangat memadai sebesar USD 146 miliar.
Sektor keuangan domestik turut menunjukkan tren penguatan yang signifikan selepas tekanan pertengahan tahun. Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp17.720 per dolar AS pada akhir Agustus, pulih dari titik terlemahnya di Rp18.171 pada Juni lalu.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menunjukkan pemulihan ke level 6.525,5, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stabil di kisaran 7,0 persen.
Arus Modal dan Kepercayaan Internasional
Kepercayaan investor global terhadap prospek jangka panjang Indonesia mendapat pengakuan kuat dari lembaga pemeringkat internasional. S&P Global Ratings mempertahankan sovereign rating Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil, sementara Lianhe Ratings Global memberikan predikat AAA dengan outlook stabil.
"Perbaikan pengelolaan APBN juga terus dilakukan antara lain melalui reformasi sistem perpajakan dan bea cukai, percepatan belanja dengan fokus pada program yang beri multiplier effect bagi pertumbuhan dan kesejahteraan, serta menjaga defisit dan utang dalam batas aman," papar Purbaya. saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Senin 7 September 2026.
Masuknya aliran modal asing (capital inflow) turut mencatatkan tren peningkatan yang menggembirakan, dengan total inflow hingga 28 Agustus 2026 mencapai Rp140,1 triliun. Likuiditas domestik terpantau longgar dan memadai, tecermin dari pertumbuhan uang beredar (M0) pada Agustus pekan ketiga sebesar 15,1 persen yoy serta ekspansi penyaluran kredit perbankan yang tumbuh 13,6 persen yoy pada Juli 2026.
Dari sisi pengelolaan anggaran negara, realisasi APBN hingga akhir Juli 2026 dinilai sangat sehat. Pendapatan negara tercatat tumbuh 21,3 persen yoy, sementara belanja negara meningkat 18,2 persen yoy, menjaga defisit fiskal tetap terkendali di level 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).










