TVRINews – Jakarta
Pergerakan Rupiah Konsolidasi Terbatas Akibat Lonjakan Minyak dan Tekanan The Fed.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi bergerak konsolidatif pada perdagangan awal pekan, Senin 7 September 2026. Sentimen pasar global diwarnai oleh kenaikan harga minyak mentah dunia serta ekspektasi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.
Berdasarkan data pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), posisi rupiah tercatat mengalami pelemahan tipis sebesar 0,08% ke level Rp17.679 per dolar AS. Tekanan eksternal ini datang bersamaan dengan lonjakan harga komoditas energi global yang kembali merangkak naik.
Kenaikan harga minyak Brent tercatat sebesar 0,21% menuju level US96,41 per barel. Sementara itu,minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada dikisaran US92 per barel.
Eskalasi di Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan harga energi tersebut. Insiden penyerangan kapal tanker Iran oleh Amerika Serikat serta pengumuman zona terbatas baru di luar Selat Hormuz oleh Teheran memicu kekhawatiran pasar mengenai potensi gangguan rantai pasok energi yang berkepanjangan.
Di sisi lain, rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat pada Agustus menunjukkan penambahan 162 ribu lapangan kerja baru. Angka ini mengejutkan para pelaku pasar dan memicu spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan sikap pengetatan moneternya.
Kendati demikian, arah kebijakan The Fed masih dibayangi oleh dinamika politik domestik Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump dilaporkan kembali mendesak bank sentral agar menurunkan suku bunga menyusul rilis data ekonomi yang solid tersebut.
Bagi perekonomian domestik, kenaikan harga energi global membawa implikasi langsung terhadap neraca perdagangan dan stabilitas harga. Sebagai negara net importir energi, lonjakan harga minyak berisiko mendongkrak biaya impor dan memicu imported inflation.
Dampak rambatan dari kenaikan biaya energi tersebut sebelumnya telah tercermin pada inflasi Agustus 2026 yang berada di level 3,19%, meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 2,88%. Tekanan ini kian kompleks dengan adanya gangguan rantai pasok akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang membatasi sektor transportasi di wilayah barat Indonesia.
Pasar Global saat ini memantau perkembangan penanganan dampak bencana alam serta arah kebijakan moneter global. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran rentang Rp17.650 hingga Rp17.750 per dolar AS.










