TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar mendorong terciptanya ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif dan aman bagi perempuan.
Menurut Irene, perempuan memiliki kontribusi besar dalam perkembangan sektor ekonomi kreatif di Indonesia. Sekitar 58 persen sektor ekonomi kreatif disebut didominasi oleh perempuan, terutama pada subsektor fesyen, kriya, dan kuliner.
"Sekitar 58 persen sektor ekraf didominasi oleh perempuan, khususnya di subsektor seperti fesyen, kriya, dan kuliner," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Minggu, 6 September 2026.
Irene mengatakan, potensi perempuan juga mulai semakin terlihat pada subsektor ekonomi kreatif yang selama ini tidak banyak didominasi perempuan, salah satunya industri gim.
Kemudian, ia menyebut mulai muncul perempuan yang mampu meraih prestasi hingga tingkat dunia di subsektor tersebut. Karena itu, pemerintah dinilai perlu terus membuka kesempatan agar semakin banyak talenta perempuan dapat berkembang.
"Namun di subsektor lain seperti gim, mulai lahir world champion perempuan. Tugas pemerintah adalah membuka kesempatan itu," ucapnya.
Lebih lanjut, Irene juga menekankan pentingnya peran masyarakat dan komunitas dalam memberikan dukungan kepada perempuan agar berani menunjukkan kemampuan dan karyanya.
Menurutnya, ruang berkumpul seperti Sisterhood Festival dapat menjadi titik awal bagi perempuan untuk membangun jejaring, saling menguatkan, dan mendorong satu sama lain untuk berkembang.
"Peran kita semua adalah untuk saling menguatkan dan meng-empower kaum hawa agar mereka berani step into the light dan menunjukkan kemampuan mereka pada dunia," tuturnya.
Selain penguatan komunitas, Irene menilai kolaborasi penting untuk menciptakan ruang digital yang aman bagi para kreator. Menurutnya, kreator tidak seharusnya menghadapi berbagai tantangan di ruang digital seorang diri.
Ia mengatakan kekuatan konten berada di tangan para kreator. Karena itu, pesan yang disampaikan melalui konten diharapkan dapat dibuat secara tulus dan mampu menciptakan perubahan yang bermakna.
"Tahun lalu, kami mendorong terbentuknya asosiasi kreator konten Indonesia, agar mereka dapat menyatukan suara untuk mendorong terciptanya ruang digital yang aman bagi semua," jelasnya.
Sisterhood Festival 2026 sendiri digagas Magdalene dan International Media Support (IMS), bersama Women News Network (WNN). Festival tersebut menjadi wadah bagi perempuan untuk berbagi pengalaman, membangun jejaring, mengembangkan keterampilan, serta menciptakan ruang yang aman dan inklusif.
Perwakilan International Media Support, Eva Danayanti, mengatakan terciptanya ruang aman bagi perempuan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Menurut Eva, keamanan tidak hanya berkaitan dengan keberadaan aturan atau regulasi, tetapi juga kesadaran bersama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung setiap orang agar dapat berekspresi dan berkreasi secara aman.
"Bilang aman itu tidak hanya sekadar terlindungi dengan ada aturan, tapi juga apakah orang-orang di sekitarnya memahami bagaimana mendukung untuk menyediakan ruang aman itu sendiri," imbuh Eva.










