TVRINews, Jakarta
Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, hari ini Jumat 13 Juni 2025, rupiah dibuka di level Rp16.273 per dolar AS, turun 30,5 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan Kamis 12 Juni 2025, di level Rp16.242,5 per dolar AS.
Sementara rupiah dibuka melemah, mata uang Asia lainnya menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Yuan China dan yen Jepang masing-masing menguat 0,25 persen dan 0,29 persen. Namun, ringgit Malaysia dan won Korea Selatan justru terkoreksi masing-masing sebesar 0,48 persen dan 0,75 persen.
Pelemahan ini terjadi meski tren global menunjukkan dolar AS sedang dalam tekanan. Indeks dolar AS sempat menyentuh posisi terendah sejak April 2022, di tengah ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa pergerakan rupiah hari ini cenderung fluktuatif, dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan internal.
“Meskipun dibuka melemah, rupiah masih berpeluang menguat di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.250 per dolar AS,” ujarnya.
Dolar AS dalam Tekanan
Tekanan terhadap dolar AS berasal dari data inflasi produsen yang lemah, yang memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed. Indeks Bloomberg Dollar Spot terus melanjutkan pelemahannya ke level 97,6840 pada Jumat pagi, menandai penurunan lebih dari 8 persen sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam tarif baru terhadap sejumlah negara mitra dagang turut meningkatkan ketidakpastian pasar. Ancaman tersebut dianggap berpotensi menambah beban bagi ekonomi AS dan memperlemah sentimen terhadap dolar.
Baca Juga: Pertamina Catat Kinerja Positif di 2024, Laba Bersih Tembus Rp 49 T










