TVRINews, Pekalongan
Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Kabupaten Pekalongan memperkuat upaya percepatan swasembada gula nasional melalui Gerakan Tanam Serentak Tebu yang digelar di Desa Salit, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu, 3 Juni 2026.
Kegiatan bertema "Wujudkan Percepatan Hilirisasi Komoditas Perkebunan" itu menjadi langkah untuk meningkatkan produktivitas tebu nasional sekaligus mendorong pengembangan industri hilir berbasis komoditas perkebunan yang mampu memberikan nilai tambah bagi petani.
Hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Heru Triwidarto, jajaran PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), General Manager PG Sragi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perkebunan Kabupaten Pekalongan Yudhi Himawan, unsur Forkopimcam, pemerintah desa, serta kelompok tani setempat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perkebunan Kabupaten Pekalongan Yudhi Himawan mengatakan gerakan tanam serentak merupakan bagian dari strategi pengembangan perkebunan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
"Kabupaten Pekalongan memperoleh target pengembangan tebu seluas 234 hektare pada tahun 2026. Hingga saat ini realisasi tanam telah mencapai 135 hektare. Kami optimistis target tersebut dapat tercapai dengan dukungan seluruh pihak, termasuk pemerintah pusat, pabrik gula, dan petani," ujarnya.
Menurut Yudhi, peningkatan luas tanam tebu diharapkan mampu mendorong produksi gula sekaligus meningkatkan pendapatan petani melalui penguatan kemitraan dengan industri pengolahan.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan Heru Triwidarto menegaskan pengembangan tebu menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam mendukung swasembada gula nasional.
"Hilirisasi merupakan kunci peningkatan nilai tambah komoditas perkebunan. Karena itu, pengembangan tebu harus didukung oleh penguatan industri pengolahan agar manfaat ekonominya semakin besar dan dirasakan langsung oleh petani," kata Heru.
Heru menjelaskan target pengembangan tebu di Provinsi Jawa Tengah pada 2026 mencapai 10.800 hektare. Hingga saat ini realisasi penanaman telah mencapai sekitar 80 persen atau sekitar 8.800 hektare.
"Masih terdapat sekitar 2.000 hektare yang akan terus dikejar hingga akhir tahun. Kami optimistis target tersebut dapat tercapai melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, industri gula, dan petani," ujarnya.
Secara nasional, pemerintah menargetkan pengembangan areal tebu sekitar 97 ribu hektare pada 2026. Hingga awal Juni, realisasi penanaman telah mencapai sekitar 62 persen dan akan terus dipercepat untuk memenuhi target produksi gula nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan percepatan tanam tebu menjadi bagian penting dalam mewujudkan swasembada pangan dan swasembada gula sesuai arahan Presiden Republik Indonesia.
"Presiden memberikan perhatian besar terhadap penguatan ketahanan pangan nasional. Karena itu, seluruh jajaran Kementerian Pertanian terus bergerak mempercepat peningkatan produksi komoditas strategis, termasuk gula, melalui perluasan areal tanam, peningkatan produktivitas, serta penguatan kemitraan dengan petani dan industri," ujar Mentan Amran.
Amran menambahkan pemerintah berkomitmen memberikan dukungan penuh kepada petani melalui penyediaan benih unggul, mekanisasi, pembiayaan, hingga penguatan hilirisasi agar hasil produksi memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
"Petani harus menjadi pelaku utama yang menikmati manfaat pembangunan pertanian. Karena itu, seluruh program yang dijalankan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, kesejahteraan petani, dan memperkuat ketahanan pangan nasional," tegasnya.
Gerakan Tanam Serentak ditutup dengan penanaman bibit tebu secara simbolis oleh para tamu undangan bersama kelompok tani. Kegiatan ini menjadi wujud sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dan petani dalam memperkuat sektor perkebunan nasional yang modern, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Melalui percepatan tanam dan penguatan hilirisasi komoditas perkebunan, pemerintah optimistis target swasembada gula nasional dapat tercapai sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat perekonomian daerah.










