TVRINews- Jakarta
Badan Pusat Statistik mencatat kenaikan NTP sebesar 1,99 persen, didorong oleh performa kuat sektor hortikultura dan tanaman pangan.
Sektor agrikultural Indonesia menunjukkan pemulihan ekonomi yang signifikan pada pertengahan kuartal kedua tahun ini. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Mei 2026 mengalami kenaikan sebesar 1,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya, mencapai angka 127,73.
Lonjakan ini mengindikasikan bahwa laju pendapatan yang diterima oleh para produsen domestik bergerak lebih cepat daripada beban biaya produksi maupun inflasi pengeluaran rumah tangga yang harus mereka penuhi.
Dominasi Sektor Hortikultura
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa penguatan indikator kesejahteraan ini berakar dari ketimpangan positif antara indeks harga yang diterima (IT) dengan indeks yang dibayarkan oleh petani (IB).
"Nilai Tukar Petani untuk Mei 2026 tercatat sebesar 127,73 atau naik 1,99 persen secara bulanan. Akselerasi ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani tumbuh hingga 2,53 persen, jauh melampaui kenaikan indeks pengeluaran yang hanya berada di angka 0,53 persen," ujar Pudji dalam konferensi pers di kutip Rabu 3 Juni 2026.
Menurut otoritas statistik tersebut, penguatan NTP ditopang kuat oleh apresiasi harga komoditas unggulan di pasar. Karet, gabah, biji kakao, dan bawang merah menjadi komoditas utama yang mengerek pendapatan di tingkat hulu.
Secara sektoral, komoditas hortikultura mencatatkan performa paling impresif dengan pertumbuhan NTP mencapai 7,08 persen. Pudji menambahkan bahwa lonjakan di sektor ini utamanya dipicu oleh pergerakan harga pasar yang menguntungkan pada komoditas hortikultura strategis seperti cabai rawit, cabai merah, tomat, dan bawang merah.
Di sisi lain, sektor tanaman pangan yang krusial bagi ketahanan pangan nasional—juga mencatatkan tren positif. Subsektor ini membukukan kenaikan NTP sebesar 1,34 persen, bergerak dari angka 112,29 pada April menjadi 113,79 pada Mei, yang sekaligus mencerminkan membaiknya posisi tawar ekonomi petani pangan.
Respons Kebijakan dan Keberlanjutan
Merespons rilis data makro tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa dinamika positif ini merupakan hasil dari implementasi serangkaian kebijakan struktural yang fokus pada peningkatan produktivitas serta optimalisasi efisiensi biaya di lapangan.
"Ini adalah indikator riil bahwa hasil kerja keras para petani di lapangan mendapatkan nilai tambah yang kompetitif. Fokus kebijakan pemerintah saat ini bukan sekadar menggenjot angka produksi, melainkan memastikan bahwa ekosistem tata niaga memberikan keuntungan yang adil bagi produsen," kata Amran.
Kementerian Pertanian mengklaim bahwa stabilitas dan penguatan sektor ini didorong oleh intervensi modal dan infrastruktur dalam dua tahun terakhir. Langkah tersebut mencakup perluasan area tanam, modernisasi sistem irigasi, distribusi benih unggul, serta mekanisasi pertanian melalui penyediaan alat berat di wilayah-wilayah sentra produksi nasional.
Kendati menghadapi tantangan ganda berupa volatilitas iklim global dan ketidakpastian ekonomi, sektor domestik ini dinilai masih menunjukkan resiliensi yang tinggi. Pemerintah menegaskan akan terus menjaga momentum pertumbuhan ini guna memastikan stabilitas pasokan pangan nasional sekaligus menekan angka kemiskinan di wilayah perdesaan.










