TVRINews, Jakarta
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mempercepat transformasi digital sektor manufaktur nasional guna meningkatkan daya saing industri di tengah dinamika ekonomi global. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memfasilitasi pelaksanaan Proof of Concept (PoC) solusi Industri 4.0 berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada sektor farmasi yang menjadi salah satu sektor prioritas dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan transformasi digital kini menjadi kebutuhan mendesak bagi industri nasional untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing di pasar global.
"Akselerasi transformasi digital dan adopsi teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk mendongkrak efisiensi dan daya saing global sektor kimia dan farmasi kita,"kata Agus Gumiwang dalam keterangan tertulis, dikutip, Senin, 20 Juli 2026.
Sebagai tindak lanjut, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) melalui Pusat Industri Digital Indonesia 4.0 (PIDI 4.0) terus memperluas implementasi teknologi digital di sektor manufaktur melalui berbagai program kolaboratif yang melibatkan pelaku industri dan penyedia teknologi.
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi mengatakan, selain meningkatkan kompetensi sumber daya manusia industri, pihaknya juga berupaya mempercepat penerapan teknologi digital secara langsung di lingkungan industri manufaktur.
"PIDI 4.0 memfasilitasi pelaksanaan Proof of Concept (PoC) sebagai sarana bagi perusahaan untuk menguji kelayakan suatu solusi digital dalam kondisi operasional yang sesungguhnya sebelum diimplementasikan dalam skala yang lebih luas,"ungkap Doddy.
Sebagai bagian dari program tersebut, BPSDMI memfasilitasi pelaksanaan PoC System Invariant Analytics Technology(SIAT) yang dikembangkan PT NEC Indonesia bersama mitra lokal Bogor Technology. Uji coba yang berlangsung pada April hingga Juni 2026 itu diterapkan di PT Kalbe Farma Tbk dengan fokus pada sistem predictive maintenance berbasis AI dan pemantauan kondisi peralatan produksi secara real time.
Teknologi SIAT memanfaatkan kecerdasan buatan dan machine learning untuk menganalisis kondisi mesin produksi secara prediktif. Dengan sistem tersebut, potensi gangguan pada peralatan dapat dideteksi lebih dini sehingga mampu mengurangi risiko downtime, meningkatkan keandalan aset, mengoptimalkan proses pemeliharaan, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Selain menguji kemampuan sistem dalam mendeteksi potensi gangguan, pelaksanaan PoC juga mengevaluasi tingkat akurasi, kemudahan integrasi dengan sistem perusahaan yang telah ada, serta peluang pengembangan solusi pada tahap implementasi berikutnya.
Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM Industri Ronggolawe Sahuri menilai kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan penyedia teknologi menjadi kunci percepatan implementasi Industri 4.0 di Indonesia.
"Melalui kolaborasi ini, proses transformasi digital tidak hanya menjadi sebuah konsep, tetapi dapat diwujudkan dalam implementasi yang memberikan manfaat nyata bagi industri," ujar Sahuri.
Hasil evaluasi menunjukkan pelaksanaan PoC berhasil diselesaikan dengan baik dan memperoleh tingkat kepuasan sebesar 8 dari 10 dari PT Kalbe Farma Tbk. Dari tiga target utama yang ditetapkan sejak awal, dua target berhasil dicapai secara penuh. Capaian tersebut menunjukkan solusi SIAT memiliki prospek yang baik untuk diterapkan lebih luas di sektor manufaktur.
Presiden Direktur PT NEC Indonesia Akifumi Katano menyebut keberhasilan PoC tersebut menjadi langkah penting dalam mempercepat adopsi inovasi digital di sektor industri nasional.
"Keberhasilan dari PoC ini menunjukkan tonggak penting dalam upaya mempercepat inovasi digital pada sektor industri di Indonesia,"kata Akifumi.
Sementara itu, Engineering Group Head PT Kalbe Farma Tbk Ronald Effendi menilai penerapan SIAT membuka peluang baru dalam optimalisasi pengelolaan aset digital perusahaan sekaligus memperkuat daya saing industri farmasi nasional.
"Sistem SIAT ini sangat komprehensif dalam mengintegrasikan dan mengolah data. Hal ini membuka potensi baru bagi kami dan meningkatkan daya saing perusahaan untuk menghadapi tantangan di industri farmasi,"ujar Ronald.
Melalui pelaksanaan PoC tersebut, Kemenperin optimistis kolaborasi antara pemerintah, penyedia teknologi, dan pelaku industri akan semakin mempercepat transformasi digital sektor manufaktur. Implementasi teknologi Industri 4.0 yang semakin luas diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional, produktivitas, dan daya saing industri nasional, sekaligus mendukung terwujudnya pembangunan industri yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.










