TVRINews – Jakarta
Pemerintah pastikan stabilitas harga Pertalite dan Solar di tengah lonjakan harga diesel nonsubsidi swasta.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan kepastian bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi serta Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram dalam waktu dekat.
Penegasan ini muncul sebagai respons atas fluktuasi tajam harga bahan bakar jenis diesel di sejumlah penyedia jasa pengisian bahan bakar (SPBU) swasta yang kini menembus angka Rp30.890 per liter.
Bahlil menjelaskan bahwa lonjakan harga pada operator swasta merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar.
Ia merujuk pada regulasi yang berlaku, yakni Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang mengatur formula harga dasar BBM nonsubsidi.
"Untuk BBM yang sifatnya industri atau untuk kelompok masyarakat mampu, penyesuaiannya memang mengikuti harga pasar dunia sesuai dengan aturan yang ada," ujar Bahlil dikutip Rabu 6 Mei 2026.
Meskipun harga di sektor nonsubsidi mengalami kontraksi hebat, Bahlil menjamin intervensi pemerintah tetap berfokus pada perlindungan daya beli masyarakat menengah ke bawah.
"Sekali lagi saya sampaikan, untuk bensin, solar, maupun LPG subsidi, tidak akan ada kenaikan harga," tegasnya.
Harga di Sektor Swasta
Kondisi pasar bahan bakar di Indonesia pekan ini diwarnai oleh lompatan harga yang signifikan pada produk diesel nonsubsidi. PT Vivo Energy Indonesia, misalnya, menetapkan harga Diesel Primus sebesar Rp30.890 per liter per Mei 2026.
Angka ini menunjukkan kenaikan drastis lebih dari 100 persen dibandingkan harga pada April lalu yang berada di level Rp14.610 per liter.
Tren serupa juga diikuti oleh BP-AKR yang mengerek harga diesel mereka ke angka yang sama, yakni Rp30.890 per liter, setelah sebelumnya sempat melakukan penyesuaian di level Rp25.560 pada awal bulan.
Di sisi lain, PT Pertamina (Persero) juga turut melakukan penyesuaian harga pada lini produk nonsubsidinya per Senin 4 Mei 2026.
Di wilayah Jabodetabek, harga Dexlite kini dipatok Rp26.000 per liter, sementara Pertamina Dex berada di angka Rp27.900 per liter.
Kendala Operasional dan Transparansi Stok
Selain persoalan harga, operasional SPBU swasta kini berada di bawah sorotan publik. Sejumlah konsumen mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan bahan bakar di SPBU Vivo pada jam-jam tertentu.
Melalui media sosial, pelanggan menyuarakan keresahan terkait dugaan pembatasan stok harian yang memicu penutupan sementara beberapa gerai.
Hingga saat ini, transparansi mengenai ketersediaan stok secara real-time di situs resmi perusahaan terpantau belum diperbarui sejak akhir Maret lalu.
Hal ini menambah ketidakpastian bagi konsumen yang mulai beralih mencari alternatif bahan bakar dengan harga yang lebih kompetitif.
Secara teknis, penyesuaian harga periodik ini didasarkan pada perhitungan biaya perolehan, distribusi, dan margin yang mengacu pada indeks pasar internasional, seperti Mean of Platts Singapore (MOPS) atau Argus.
Kendati dinamika pasar global terus menekan harga energi, kebijakan domestik saat ini masih memprioritaskan subsidi sebagai bantalan ekonomi nasional.










