TVRINews – Jakarta
Tanggapi sinyal buruk MSCI, bursa janji perkuat transparansi pasar saham.
Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak cepat mengajukan permohonan klarifikasi resmi kepada MSCI, menyusul keputusan penyedia indeks saham global tersebut yang membuka ruang konsultasi bagi investor terkait potensi penurunan status pasar modal Indonesia.
Konsultasi yang diumumkan MSCI tersebut berpotensi menggeser posisi Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, menegaskan bahwa otoritas bursa memprioritaskan dialog langsung guna memahami seluruh pertimbangan dan perhatian utama MSCI secara mendalam.
"Kami akan segera meminta waktu kepada MSCI untuk mengklarifikasi kekhawatiran yang masih mereka miliki," ujar Iding saat memberikan keterangan resmi kepada media di Jakarta, Jumat 16 Oktober 2026.
Pihak bursa menaruh perhatian mendesak terhadap langkah MSCI ini. Sebelumnya, penyedia indeks yang berbasis di Amerika Serikat tersebut mengungkapkan masukan dari sejumah pelaku pasar internasional mengenai sejumlah isu krusial, seperti transparansi struktur kepemilikan saham hingga indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi.
Menanggapi hal tersebut, Iding menekankan bahwa serangkaian pembenahan dan pembaharuan tata kelola telah dijalankan secara berkesinambungan oleh bursa domestik.
"Berbagai langkah reformasi terus kami jalankan untuk memperkuat aspek transparansi serta integritas di pasar modal nasional," tambah Iding.
IHSG Tertekan ke Level Terendah sejak 2020
Pengumuman konsultasi oleh MSCI tersebut memicu aksi jual masif di pasar modal domestik. Pada sesi perdagangan Jumat 16 Oktober 2026 pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok hingga lebih dari 11 persen ke level 5.210.
Tekanan terbesar datang dari koreksi harga saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip), antara lain PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Dalam dinamika perdagangan pagi hari, indeks komposit sempat menyentuh titik terendah di level 5.199,13 atau anjlok 11,2 persen. Pencapaian ini mencatatkan rekor penurunan terdalam bagi pasar saham Indonesia dalam kurun waktu lebih dari enam tahun terakhir sejak 2020.
Tekanan terhadap pasar modal Indonesia sendiri telah berlangsung secara konsisten. Data perdagangan mencatat, arus modal asing keluar (capital outflow) sepanjang bulan Oktober (month-to-date) mencapai US$212,5 juta (sekitar Rp3,3 triliun, dengan asumsi kurs Rp15.600 per dolar AS).
Sementara itu, secara kumulatif sejak awal tahun (year-to-date), pemodal asing telah mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar US$4,87 miliar (sekitar Rp75,97 triliun).










