TVRINews, Jakarta
Langkah intervensi Bank Indonesia (BI) yang terukur serta kokohnya stabilitas ekonomi domestik berhasil mendorong penguatan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada awal perdagangan Selasa, 21 Juli 2026. Pergerakan positif mata uang Garuda ini membalikkan arah setelah sempat tertekan pada perdagangan hari sebelumnya.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada hari Senin, 20 Juli 2026, ditutup melemah 27 poin ke level Rp17.948 per dolar AS. Namun, memasuki perdagangan Selasa pagi, rupiah kembali merangsek naik seiring dengan tingginya optimisme pelaku pasar terhadap fundamental perekonomian nasional.
Para pengamat pasar keuangan menilai pergerakan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Dari dalam negeri, terjaganya inflasi nasional serta neraca perdagangan yang tetap solid memberikan fondasi kuat bagi pergerakan mata uang lokal. Sementara dari sisi eksternal, melesunya indeks dolar AS memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak di zona hijau.
Langkah responsif Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui instrumen moneter terus memicu kepercayaan investor. Intervensi terukur di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dinilai efektif menahan volatilitas kurs secara berkesinambungan.
Sepanjang hari ini, nilai tukar rupiah diproyeksikan akan bergerak dalam rentang yang relatif stabil dengan kecenderungan menguat terbatas. Pelaku pasar masih mencermati rilis data-data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat serta arah kebijakan suku bunga acuan dari Bank Sentral AS (The Fed) mendatang.
Pergerakan positif rupiah di awal pekan ini diharapkan dapat memberikan dampak kondusif bagi iklim investasi nasional serta menjaga keterjangkauan harga komoditas impor di pasar domestik.










