TVRINews – Jakarta
Tekanan dolar Amerika Serikat dan sentimen pasca demonstrasi pengaruhi pergerakan mata uang nasional.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi melanjutkan fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah pada perdagangan jelang akhir pekan ini, Jumat, 28 Agustus 2026. Sentimen eksternal yang didominasi oleh arah kebijakan moneter global serta dinamika domestik menjadi faktor utama yang membebani ruang gerak mata uang Garuda.
Berdasarkan pengamatan pasar keuangan, para pelaku usaha kini tengah menantikan arah kebijakan yang akan disampaikan oleh pimpinan Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam simposium ekonomi Jackson Hole.
Pasar mengantisipasi kemungkinan besar bank sentral Amerika Serikat tersebut akan mempertahankan sikap pengetatan moneter demi meredam laju inflasi.
Tekanan eksternal ini semakin diperkuat oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat terhadap sekeranjang mata uang utama dunia yang tertahan di level 99,12. Selain itu, lonjakan harga minyak mentah Brent yang berada di kisaran US$89,58 per barel turut memberikan beban tambahan terhadap keseimbangan neraca perdagangan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kendati demikian, laju depresiasi rupiah terpantau masih berada dalam batas moderat. Sepanjang pekan berjalan, mata uang Garuda relatif bertahan di kisaran Rp17.700 per dolar Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, rupiah spot tercatat berada di level Rp17.726 per dolar Amerika Serikat, sementara kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp17.762 per dolar Amerika Serikat.
Di tingkat regional, pergerakan mata uang Asia terpantau bervariasi. Won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,13%, diikuti oleh ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yen Jepang. Sebaliknya, yuan offshore mengalami pelemahan tipis sebesar 0,01%.
Berdasarkan dara Pasar Global Dari kancah domestik, para investor juga mencermati stabilitas keamanan nasional menyusul aksi unjuk rasa yang terjadi sehari sebelumnya di sekitar kawasan parlemen, Jakarta.
Pelaku pasar menilai stabilitas keamanan serta respons cepat pemerintah dalam menangani berbagai tantangan, termasuk dampak bencana alam seperti kebakaran hutan dan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur, menjadi indikator penting dalam menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Memasuki sesi perdagangan hari ini, rupiah diproyeksikan bergerak di rentang konsolidasi dengan estimasi pelemahan terbatas pada kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar Amerika Serikat, di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi pasar keuangan internasional.










