TVRINews – Jakarta
Berdikari Alokasikan 30.000 Ton Bungkil Kedelai untuk Stabilitas Sektor Unggas Nasional.
Di tengah dinamika biaya operasional yang kerap menjadi tantangan harian bagi peternak mandiri, upaya konkret untuk menjaga kelangsungan usaha sektor perunggasan nasional terus digulirkan.
Langkah penataan rantai pasok ini difokuskan langsung pada pemenuhan kebutuhan bahan baku pakan yang selama ini mendominasi struktur pengeluaran para peternak rakyat.
Berdasarkan arah kebijakan strategis yang dirumuskan dalam Rapat Koordinasi Perunggasan Nasional di Surabaya, inisiatif pengadaan material pakan kini mulai memasuki tahap distribusi di tingkat akar rumput.
Melalui sinergi lintas sektor, ketersediaan 30.000 ton Soybean Meal (SBM) atau bungkil kedelai disiapkan secara bertahap guna memastikan para pelaku usaha skala kecil memiliki akses yang lebih stabil terhadap bahan baku esensial tersebut.
Mekanisme Penyaluran Berbasis Komunitas
Sebagai langkah awal di lapangan, alokasi sebanyak 5.000 ton bungkil kedelai mulai disalurkan melalui Koperasi Produsen Usaha Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER).
Pendekatan berbasis kelembagaan koperasi ini dipilih untuk memastikan distribusi dapat menjangkau para peternak anggota secara transparan dan terencana.
Direktur Operasional PT Berdikari, Agung Aulia, mengungkapkan bahwa pembukaan akses pasokan tahap awal ini merupakan bagian dari komitmen bersama untuk membangun ekosistem peternakan yang lebih berkeadilan.
“Kami mengawali langkah ini dari 5.000 ton untuk merespons kebutuhan mendesak di lapangan. Harapannya, pola tata kelola yang terintegrasi ini dapat memberikan kepastian bagi para peternak mandiri dalam menjalankan usahanya sehari-hari,” ujar Agung Rabu 26 Agustus 2026.
Selain melalui jaringan LPER, proses verifikasi dan penanganan pengajuan dari berbagai asosiasi peternak di berbagai daerah juga terus berjalan guna memperluas cakupan penerima manfaat.
Angin Segar bagi Pelaku Usaha Mandiri
Bagi para pelaku di tingkat bawah, kepastian ketersediaan bahan baku dengan skema yang lebih terstruktur memberikan optimisme tersendiri di tengah fluktuasi harga pasar. Ketua Umum Koperasi LPER, H. Mulyadi Atma, menilai bahwa kehadiran dukungan pasokan ini menjadi momentum penting untuk meredam tekanan biaya produksi yang selama ini membebani peternak.
“Dukungan pasokan SBM di awal ini memberikan ruang bagi peternak kita untuk bernapas lebih lega. Dengan efisiensi biaya yang terbangun, kami optimis produktivitas dan semangat peternak rakyat dapat kembali pulih,” ungkap Mulyadi.
Langkah kolaboratif ini turut mendapat perhatian dari Kementerian Pertanian dalam kerangka penguatan struktur industri pakan jangka panjang. Direktur Pakan Kementan, Tri Melasari, menjelaskan bahwa konsolidasi melalui wadah koperasi adalah kunci utama untuk memperkuat posisi tawar peternak rakyat.
“Pemerintah terus mendorong pola pengadaan yang terkelola dengan baik. Yang ingin kita bangun bukan sekadar distribusi material, melainkan ekosistem berkelanjutan yang memberikan kepastian jangka panjang bagi keberlangsungan usaha peternak di seluruh daerah,” jelas Tri.
Melalui sinergi antara kebijakan pemerintah, kesiapan pasokan logistik, dan peran aktif kelembagaan koperasi di daerah, beban operasional peternak rakyat diharapkan dapat ditekan secara bertahap. Pada akhirnya, langkah ini tidak hanya menjaga eksistensi peternak mandiri, tetapi juga memastikan ketersediaan pangan sumber protein hewani yang stabil bagi masyarakat luas.










