TVRINews, Jakarta
OJK menilai fundamental pasar modal Indonesia dan kinerja emiten secara umum masih menunjukkan kondisi yang positif meski pasar saham domestik tengah mengalami tekanan dan volatilitas tinggi.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan kondisi tersebut tercermin dari tingginya nilai transaksi serta likuiditas pasar saham yang tetap terjaga.
Selain itu, berdasarkan laporan keuangan triwulan I 2026, mayoritas perusahaan tercatat masih membukukan pertumbuhan laba yang positif.
“Mayoritas perusahaan tercatat tetap tercatat membukukan laba dengan pertumbuhan laba secara agregat lebih dari 21 persen jika dibandingkan periode yang sama yaitu triwulan I di tahun sebelumnya,”ujar Hasan dalam keterangan yang diterima tvrinews, Jumat, 5 Juni 2026.
Menurut Hasan, data historis dan proyeksi kinerja emiten dapat menjadi pertimbangan rasional bagi investor dalam menentukan strategi investasi di tengah dinamika pasar.
Meski demikian, IHSG mengalami tekanan cukup dalam sepanjang Mei 2026. Hingga akhir Mei, IHSG terkoreksi 11,92 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan turun 29,14 persen secara tahun berjalan (year to date/ytd).
Tekanan di pasar saham juga berlanjut pada awal Juni 2026. Pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, IHSG ditutup melemah 4,11 persen atau turun 254,36 poin ke level 5.941,07.
Koreksi kemudian berlanjut pada Kamis, 4 Juni 2026 hingga sesi pertama perdagangan dengan penurunan 3,48 persen. Namun, pelemahan berhasil ditekan pada akhir perdagangan sehingga IHSG ditutup turun 1,70 persen.
Sementara pada Jumat, 5 Juni 2026, IHSG kembali terkoreksi 4,20 persen dan ditutup di level 5.594,77.
OJK menilai tekanan yang terjadi di pasar saham merupakan respons pasar terhadap berbagai faktor domestik maupun global yang saat ini mempengaruhi sentimen investor.
Salah satu faktor yang disebut memengaruhi pergerakan pasar ialah aksi rebalancing portofolio investor akibat perubahan komposisi indeks global.
Selain itu, perkembangan sejumlah indikator ekonomi dan sentimen global turut menjadi perhatian investor dalam mengambil keputusan investasi.
Karena itu, Hasan mengimbau pelaku pasar agar tetap mencermati kondisi pasar secara objektif dan rasional di tengah volatilitas yang tinggi.
“Oleh sebab itu, investor perlu terus mencermati berbagai dinamika pasar secara objektif, proporsional, dan rasional,”jelasnya.
Hasan juga meminta investor mengedepankan analisis yang memadai dan menggunakan informasi yang valid serta terkonfirmasi, termasuk keterbukaan informasi dan laporan keuangan emiten.
“Ini penting agar dalam setiap pengambilan keputusan investasi dapat dilakukan sesuai dengan hasil analisis dimaksud di tengah kondisi pasar yang bervolatilitas tinggi maupun memiliki dinamika dan tekanan saat ini,”tuturnya.










