TVRINews – Jakarta
Tekanan eksternal dari pasar tenaga kerja Amerika Serikat dan lonjakan harga minyak mentah global memicu depresiasi mata uang Garuda hingga mencetak rekor terendah baru
Pasar keuangan domestik kembali menghadapi tekanan berat seiring melemahnya nilai tukar rupiah yang melewati ambang batas psikologis baru. Pada penutupan perdagangan Kamis 4 Juni 2026, mata uang Indonesia merosot 0,46 persen atau kehilangan 82 poin ke posisi Rp18.049 per dolar Amerika Serikat (AS), yang menandai titik terendah dalam sejarah.
Analis memproyeksikan pergerakan kurs hari ini, Jumat 5 Juni 2026, masih akan bergerak fluktuatif di rentang Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS akibat kuatnya sentimen negatif eksternal.
Meningkatnya volatilitas ini terjadi di tengah langkah mitigasi dari otoritas moneter dalam negeri. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, mengonfirmasi bahwa bank sentral telah memperketat batas pembelian valuta asing tanpa dokumen pendukung (underlying) menjadi 25.000 dolar AS per pelaku pasar per bulan, efektif sejak awal Juni. Kebijakan ini ditujukan untuk menekan ruang spekulasi di pasar valas domestik.
"Langkah penurunan batas ini adalah bagian dari upaya Bank Indonesia menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar valas serta meredam tekanan terhadap mata uang regional," ujar Denny dalam keterangan resminya dikutip Jumat 5 Juni 2026.
Ketegangan Global dan Data Tenaga Kerja AS
Pemicu utama koreksi tajam ini berasal dari luar negeri. Indeks dolar AS (DXY) bertahan kokoh di kisaran 99,42, ditopang oleh rilis data sektor swasta ADP yang menunjukkan penambahan 122.000 lapangan kerja baru di AS pada bulan Mei.
Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar dan memperkuat estimasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Hal ini diperparah oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah global ke level 93 dolar AS per barel, meningkatkan kekhawatiran defisit anggaran bagi negara importir minyak seperti Indonesia.
Pengamat pasar keuangan, Ibrahim, menilai kombinasi kenaikan harga komoditas energi dan ketidakpastian reklasifikasi indeks pasar modal MSCI menjadi faktor krusial yang memicu kekhawatiran pelebaran defisit fiskal hingga mendekati batas aman 3 persen.
Proyeksi Skenario Makroekonomi
Meskipun ekonomi nasional kuartal I-2026 dilaporkan tumbuh positif sebesar 5,61 persen secara tahunan (yoy), ketidakpastian nilai tukar tetap menjadi risiko utama bagi proyeksi ekonomi sepanjang tahun berjalan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjabarkan dua peta jalan proyeksi pergerakan rupiah berdasarkan variabel kebijakan yang berkembang.
Dalam skenario optimistis, pengetatan moneter yang disiplin dan kepastian independensi bank sentral dapat menahan posisi rupiah di level rata-rata Rp17.089 per dolar AS.
"Namun, skenario negatif dapat membawa rupiah melemah hingga ke area Rp17.834, atau bahkan lebih rendah, apabila terjadi pelebaran defisit transaksi berjalan yang signifikan disertai fenomena keluarnya modal asing (capital outflow) dari pasar obligasi negara," pungkas Nafan.










