TVRINews, Jakarta
Airlangga Hartarto Siapkan Stimulus Baru Hadapi Tantangan Global.
Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk mempertahankan tren pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan global yang dinamis. Meski sejumlah lembaga keuangan internasional merevisi proyeksi pertumbuhan, otoritas ekonomi tetap optimistis mampu mencapai target yang ditetapkan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa fundamental ekonomi domestik saat ini tetap dalam posisi solid. Hal ini tercermin dari keyakinan berbagai lembaga global yang menempatkan ekonomi Indonesia pada rentang pertumbuhan sekitar 5%.

(Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto: fundamental ekonomi domestik saat ini tetap dalam posisi solid Minggu 12 Juli 2026 (Foto: [email protected]))
"Berbagai lembaga seperti IMF, Bank Dunia, maupun OECD menilai perekonomian kita relatif aman dan kokoh," ujar Airlangga dikutip Minggu 12 Juli 2026.
Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan terbarunya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di level 5% pada tahun 2026 dan meningkat menjadi 5,1% pada 2027. Angka ini sedikit di bawah target pemerintah yang mematok pertumbuhan sebesar 5,4% untuk akhir tahun 2026.
Sebagai catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat cukup kuat di angka 5,61%. PDB atas dasar harga konstan pada periode yang sama mencapai Rp3.447,7 triliun.
Strategi Stimulus dan Mitigasi Defisit
Di balik optimisme tersebut, pemerintah mencermati tantangan pada neraca perdagangan yang mencatatkan defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Ini merupakan defisit pertama setelah enam tahun mencatatkan surplus beruntun. Airlangga menjelaskan, fenomena ini dipicu oleh lonjakan harga impor bahan bakar minyak (BBM).
"Defisit terjadi akibat kenaikan harga impor BBM. Sementara ekspor komoditas unggulan seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy relatif stabil. Kami akan memantau kondisi ini dalam beberapa bulan ke depan," tambah Airlangga.
Untuk mengimbangi tekanan eksternal dan memacu produktivitas sektor riil, pemerintah tengah menyiapkan langkah intervensi kebijakan. Salah satunya adalah pemberian insentif bea masuk 0% bagi impor bahan baku plastik, LPG, serta suku cadang pesawat. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan biaya produksi industri nasional agar lebih kompetitif di pasar global.
Selain insentif fiskal, pemerintah juga terus memperkuat akses pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan skema kredit perumahan. Airlangga memastikan bahwa likuiditas di sektor perbankan tetap terjaga dengan pertumbuhan dana pihak ketiga yang berada di level double digit.
"Kondisi perbankan relatif aman. Kami mencatat tren peningkatan penyaluran kredit yang lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya," pungkasnya.










