TVRINews, Jakarta
Pemerintah pastikan pertumbuhan ekonomi nasional masih terjaga.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau masih berada di bawah tekanan pasar, dengan menyentuh level Rp18.000 pada pekan ini. Meskipun demikian, pemerintah menegaskan bahwa fundamental perekonomian nasional tetap terjaga di tengah volatilitas mata uang global.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada perdagangan Jumat 10 Juli 2026 sempat dibuka menguat tipis sebesar 0,06% ke posisi Rp18.060 per dolar AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar tidak serta-merta mencerminkan kondisi ekonomi domestik yang rapuh. Menurutnya, sejumlah indikator makroekonomi utama masih menunjukkan tren positif.

(Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto (Foto: Kemenko Perekonomian))
"Jika kita mencermati data, pertumbuhan ekonomi tercatat masih impresif di level 5,61%. Selain itu, neraca perdagangan secara year-to-date tetap menunjukkan surplus," ujar Airlangga dalam keterangan pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Jumat 10 Juli 2026.
Terkait defisit neraca perdagangan yang sempat terjadi pada Juni, Airlangga menjelaskan bahwa fenomena tersebut dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar internasional, bukan akibat melemahnya daya saing ekspor Indonesia.
Ia memastikan bahwa performa ekspor komoditas unggulan seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy masih stabil dan tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi, pemerintah berkomitmen untuk mengendalikan inflasi agar tetap berada dalam koridor target 2,5% dengan deviasi plus minus 1%.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah tengah menyusun Peraturan Menteri Keuangan (PMK) untuk membebaskan bea masuk bagi impor bahan baku plastik pada industri kimia. Selain itu, kebijakan insentif berupa bea masuk 0% juga telah diberlakukan untuk impor LPG bagi industri petrokimia selama enam bulan ke depan.
Di sektor perbankan, Airlangga menilai kondisinya tetap tangguh. Hal ini tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga yang berada pada level double digit, serta peningkatan penyaluran kredit dibandingkan kuartal sebelumnya.
Dengan capaian program strategis seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan subsidi KPR yang berjalan sesuai ekspektasi, pemerintah tetap optimis terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan berada di kisaran 5%.
"Secara keseluruhan, berbagai indikator menunjukkan bahwa perekonomian kita tetap solid dan aman," pungkas Airlangga.










