TVRINews, Jakarta
Inflasi Pangan Melandai, Harga Beras hingga Daging Terkoreksi.
Tren penurunan harga kebutuhan pokok terjadi secara serentak di berbagai wilayah Indonesia pada Jumat 10 juli 2026. Data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional Bank Indonesia menunjukkan pelemahan harga pada hampir seluruh komoditas pangan, setelah dalam beberapa hari terakhir sempat mencatatkan fluktuasi yang cukup signifikan.
Berdasarkan pantauan data pukul 08.30 WIB, komoditas beras menjadi salah satu penopang utama tren deflasi ini. Harga beras kualitas medium II tercatat mengalami penurunan paling tajam sebesar 8,98%, menetap di angka Rp14.700 per kilogram.
Sementara itu, beras kualitas bawah II kini diperdagangkan di harga Rp13.700 per kilogram, menyusut 5,52% dibandingkan periode sebelumnya.
Sektor hortikultura, yang kerap menjadi penyumbang volatilitas harga, juga menunjukkan tren serupa.
Cabai merah besar mencatatkan koreksi harga yang cukup dalam hingga 50,84%, turun menjadi Rp25.000 per kilogram. Penurunan serupa terjadi pada komoditas bawang merah dan cabai rawit merah yang masing-masing terkoreksi sekitar 20,5% dan 19,42%.
Menanggapi fenomena ini, pengamat ekonomi pangan dari Center for Food Policy menyebutkan bahwa koreksi harga merupakan respons pasar atas stabilisasi rantai pasok.
Kondisi serupa merambah ke sektor protein hewani. Daging ayam ras segar kini berada di kisaran Rp34.500 per kilogram, turun 5,48%. Begitu pula dengan telur ayam ras segar yang kini dapat dijangkau di harga Rp23.750 per kilogram, atau turun 18,66%.
Daging sapi kualitas premium pun tidak luput dari tren ini, dengan harga yang terkoreksi 13,45% menjadi Rp130.000 per kilogram.
Tak hanya bahan pangan pokok dan protein, komoditas pelengkap dapur seperti gula pasir dan minyak goreng pun terpantau lebih terjangkau. Gula pasir lokal kini dibanderol Rp17.000 per kilogram, turun 10,76%.
Sementara itu, seluruh varian minyak goreng, baik curah maupun kemasan bermerek, mengalami penurunan harga berkisar antara 2,68% hingga 12,39%.
Stabilisasi harga ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi stabilitas inflasi nasional pada bulan berjalan. Pemerintah melalui otoritas terkait terus memantau pergerakan harga di pasar domestik guna memastikan ketersediaan pasokan tetap terjaga di tingkat konsumen.










