TVRINews – Jakarta
Perum Bulog menargetkan produksi 2 juta ton beras untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penjenamaan baru.
Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) bersiap meluncurkan lini produk beras baru bertajuk "Beras Kita".
Inisiatif ini merupakan upaya strategis pemerintah untuk menyeragamkan identitas produk pangan nasional, menyusul jejak keberhasilan skema penjenamaan serupa seperti Minyakita dan Gula Manis Kita.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengonfirmasi bahwa rencana produksi sebanyak 2 juta ton telah mendapatkan lampu hijau dari Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Amran Sulaiman.
Meskipun target volume produksi telah disepakati, penentuan harga jual di tingkat konsumen masih menunggu keputusan akhir dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di bawah naungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
"Kami berencana menyesuaikan harga setelah melalui pembahasan dalam Rakortas bersama Kemenko Pangan. Namun, secara fundamental, usulan produksi sebesar 2 juta ton telah disetujui oleh Menteri Pertanian," ujar Rizal di Jakarta, Kamis 9 Juli 2026.
Rizal menjelaskan bahwa pemilihan jenama "Beras Kita" bertujuan untuk menciptakan kedekatan emosional serta mempermudah pengenalan produk di mata publik.
Dengan menyatukan identitas produk pangan pokok di bawah satu payung jenama pemerintah, diharapkan masyarakat akan lebih mudah mengenali dan mengakses kebutuhan pokok dengan standar yang terukur.
Strategi Kualitas dan Distribusi
Dalam rencana operasionalnya, Bulog akan memanfaatkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Untuk mencapai standar kualitas premium, Bulog akan menerapkan proses rice-to-rice, di mana beras medium dengan tingkat pecahan 25 persen akan diproses ulang untuk mencapai standar premium dengan tingkat pecahan maksimal 15 persen dan kadar air sebesar 14 persen.
Terkait strategi pemasaran, Bulog berencana meluncurkan produk dalam kemasan standar 5 kilogram. Kendati demikian, Rizal menekankan bahwa perusahaan akan tetap fleksibel dalam menyesuaikan ukuran kemasan demi merespons dinamika permintaan pasar.
"Kami akan mengikuti kebutuhan pasar. Jika terdapat preferensi konsumen untuk ukuran yang lebih besar maupun lebih kecil agar lebih terjangkau, kami siap melakukan penyesuaian," tambahnya.
Mengenai jadwal peluncuran, Bulog menargetkan realisasi produksi dapat dicapai antara tahun ini hingga pertengahan tahun depan. Saat ini, Bulog masih dalam proses administratif untuk mengajukan jadwal Rakortas kepada pemerintah pusat guna menetapkan kerangka harga dan operasional produk.
"Harapan kami proses ini dapat berjalan dengan cepat. Segera setelah keputusan di Rakortas disahkan, kami akan segera memulai produksi dalam skala masif," pungkasnya.
Langkah ini dipandang sebagai upaya berkelanjutan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan pangan nasional di tengah tantangan fluktuasi harga komoditas global.










