TVRINews, Jakarta
Jakarta Membangun Fondasi Ekonomi Baru di Tengah Ketidakpastian Global.
Di tengah dinamika geopolitik dan tantangan perubahan iklim global, Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkokoh ketahanan ekonomi nasional. Fokus utama kebijakan kini diarahkan pada integrasi sektor teknologi kecerdasan buatan (AI), kemandirian pangan, serta transisi menuju energi berkelanjutan.
Pemerintah Indonesia menargetkan transformasi digital yang komprehensif sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi masa depan. Langkah ini selaras dengan upaya pemerintah dalam mengoptimalkan potensi sumber daya domestik untuk menciptakan kedaulatan energi dan pangan yang lebih stabil.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam acara Kadin Indonesia Monthly Economic Diplomatic Breakfast, menekankan bahwa adopsi teknologi merupakan kunci untuk menavigasi rantai pasok global yang semakin kompleks.

(Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam acara Kadin Indonesia Monthly Economic Diplomatic Breakfast (Foto: [email protected]))
“Adopsi teknologi saat ini berjalan beriringan dengan fokus kemandirian sumber daya Indonesia. Kita bergerak maju dengan peta jalan transformasi digital yang terukur untuk memajukan kedaulatan pangan dan energi,” ujar Airlangga dikutip Minggu 12 Juli 2026.
Membidik Pasar AI dan Semikonduktor
Data dari KORIKA menempatkan Indonesia sebagai pasar AI potensial terbesar keempat di Asia, dengan estimasi nilai pasar mencapai USD70 miliar. Untuk mendukung ambisi ini, pemerintah tengah menggenjot pengembangan infrastruktur pusat data (data center) serta konektivitas fiber optik yang menghubungkan Indonesia ke berbagai titik regional, termasuk Singapura dan akses langsung ke Amerika Serikat melalui Bitung.
Selain sektor digital, Indonesia juga menunjukkan langkah progresif dalam transisi energi. Program Biodiesel B50 telah diimplementasikan sebagai upaya nyata untuk menekan emisi karbon sektor transportasi.
Kebijakan ini dilaporkan berhasil menghemat devisa negara hingga Rp177 triliun dan memangkas emisi sebesar 44 juta ton setiap tahunnya.
Di sektor industri manufaktur canggih, pemerintah membidik kemandirian produksi chip semikonduktor. Dengan proyeksi permintaan global yang mencapai USD1 triliun pada 2030, Indonesia mulai mengembangkan kemampuan desain chip serta fasilitas perakitan dan pengemasan di dalam negeri.
Diplomasi Ekonomi dan Stabilitas Investasi
Stabilitas iklim bisnis di Indonesia mendapatkan apresiasi internasional. Survei dari Japan External Trade Organization (JETRO) pada tahun 2025 menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ekosistem bisnis paling stabil di kawasan Asia Tenggara.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya N. Bakrie, menyoroti pentingnya sinergi antara diplomasi pemerintah dan eksekusi dunia usaha dalam merespons kerentanan rantai pasok global.
“Diplomasi ekonomi tidak lagi bisa dipisahkan dari sektor bisnis. Perjanjian tingkat tinggi antarpemerintah harus segera diterjemahkan menjadi realisasi investasi yang mampu membuka lapangan kerja,” jelas Anindya dalam forum yang dihadiri oleh perwakilan duta besar dari 34 negara sahabat tersebut.
Saat ini, Indonesia juga tengah mempercepat penyelesaian berbagai Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) dan memprioritaskan aksesi ke dalam CPTPP (Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership), untuk menyelaraskan regulasi domestik dengan standar internasional, guna menjaga daya tarik Indonesia sebagai destinasi utama bagi investasi asing langsung (Foreign Direct Investment).










